Selasa, 23 Februari 2021

“KLASIFIKASI PENELITIAN” Disusun Oleh: KIKIN ALKINDY ASSYAHALI dan LISEU TAQILLAH




BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode penelitian ada beberapa macam, seperti metode penelitian kualitatif, metode penelitian kuantitatif, metode penelitian R & D, dsb. Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Sedangkan penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan angka-angka yang dijumlahkan sebagai data yang kemudian dianalisis.

Penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif memiliki karakteristik tersendiri yang tentunya berbeda antar satu dengan yang lain, dimulai dari subjek dan objek penelitian, sumber data, teknik dan instrumen pengumpulan data serta penentuan populasi dan sampel. Penentuan populasi dan sampel menjadi salah satu komponen yang penting karena dengan penentuan populasi dan sampel yang tepat dapat membuat kebenaran dari penelitian tidak diragukan.

Populasi adalah keseluruhan objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian, atau keseluruhan atau individu dalam ruang lingkup yang akan diteliti. Sedangkan sampel merupakan bagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti. Dalam makalah ini, penulis akan membahas tentang bagaimana populasi dan sampel dalam penelitian kualitatif juga penelitian kuantitatif.

B.  Rumusan Masalah

1.    Bagaimana populasi dan sampel dalam penelitian kualitatif ?

2.    Bagaimana populasi dan sampel dalam penelitian kuantitatif ?

C.  Tujuan

1.    Untuk mengetahui populasi dan sampel dalam penelitian kualitatif

2.    Untuk mengetahui populasi dan sampel dalam penelitian kuantitatif

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.  Populasi dan Sampel dalam Penelitian Kualitatif

Teknik sampling dalam penelitian kualitatif jelas berbeda dengan yang nonkualitatif. Pada penelitian nonkualitatif sampel itu dipilih dari suatu populasi sehingga dapat digunakan untuk mengadakan generalisasi. Maksud sampling dalam penelitian kualitatif adalah untuk menjaring sebanyak mungkin informasi dari berbagai macam sumber dan bangunannya (constructions). Maksud kedua dari sampling dalam penelitian kualitatif adalah menggali informasi yang akan menjadi dasar dari rancangan dan teori yang muncul. Oleh sebab itu, pada penelitian kualitatif tidak ada sampel acak, tetapi sampel bertujuan (Purposive Sample).

Moleong mengatakan bahwa sampel bertujuan dapat diketahui dari ciri-cirinya sebagai berikut:[1]

1)    Rancangan sampel yang muncul: Sampel tidak dapat ditentukan atau ditarik terlebih dahulu

2)   Pemilihan sampel secara berurutan: Tujuan memperoleh variasi sebanyak-banyaknya hanya dapat dicapai apabila pemilihan satuan sampel dilakukan jika satuannya sebelumnya sudah dijaring dan dianalisis. Setiap satuan berikutnya dapat dipilih untuk memperluas informasi yang telah diperoleh terlebih dahulu sehingga dapat dipertentangkan atau diisi adanya kesenjangan informasi yang ditemui. Dari mana atau dari siapa ia mulai tidak menjadi persoalan, tetapi bila hal itu sudah berjalan, maka pemilihan berikutnya bergantung pada apa keperlun peneliti. Teknik sampling bola salju bermanfaat dalam hal ini, yaitu mulai dari satu menjadi makin lama makin banyak.

3)   Penyesuaian berkelanjutan dari sampel: Pada mulanya setiap sampel dapat sama kegunaannya. Namun, sesudah semakin banyak informasi yang masuk dan makin mengembangkan hipotesis kerja, akan ternyata bahwa sampel makin dipilih atas dasar fokus penelitian.

4)   Pemilihan berakhir jika sudah terjadi pengulangan: Pada sampel bertujuan seperti ini jumlah sampel ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan informasi yang diperlukan. Jika maksudnya memperluas informasi, dan jika tidak ada lagi informasi yang dapat dijaring, maka penarikan sampel pun sudah dapat diakhiri. Jadi, kuncinya disini adalah jika sudah terjadi pengulangan informasi, maka penarikan sampel sudah harus dihentikan.

Satuan kajian biasanya ditetapkan juga dalam rancangan penelitian. Keputusan tentang penentuan sampel, besarnya dan strategi sampling begitu, pada dasarnya bergantung pada penetapan satuan kajian. Kadang-kadang satuan kajian itu besifat perseorangan seperti siswa, klien, pasien yang menjadi satuan kajian. Bila perseorangan itu sudah ditetapkan sebagai satuan kajian, maka pengumpulan data dipusatkan di sekitarnya. Yang dikumpulkan adalah apa yang terjadi dalam kegiatannya, apa yang mempengaruhinya, bagaimana sikapnya, dan semacamnya.

Jika penelitian menghendaki adanya perbandingan antara sekelompok orang tertentu dengan kelompok lainnya, maka satuan kajiannya jelas bukan lagi perseorangan, melainkan kelompok. Misalnya penduduk suatu desa pedalaman dapat merupakan suatu kajian.  Keseluruhan program atau keseluruhan latar, misalnya rumah sakit, penjara, sekolah, dapat pula menjadi satuan kajian, maka arah perhatian peneliti adalah pada variasi satuan-satuan tersebut, bukan lagi pada perseorangan didalamnya.

Selanjutnya, Sugiyono mengatakan bahwa dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, tetapi oleh Spradley dinamakan “Social Situation” atau situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen yaitu : tempat (place), pelaku (actors), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis.[2] Tetapi sebenarnya obyek penelitian kualitatif juga bukan semata-mata pada situasi sosialyang terdiri atas tiga elemen tersebut, tetapi juga bisa berupa peristiwa alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, kendaraan dan sejenisnya.

Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan populasi, karena penelitian kualitatif berangkat dari kasus tertentu dan hasil kajiannya ditransferkan ke tempat lain pada situasi sosial yang memiliki kesamaan dengan situasi sosial pada kasus yang dipelajari. Sampel dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden, tetapi sebagai nara sumber, atau partisipan, informan, teman dan guru dalam penelitian. Sampel dalam penelitian kualitatif juga bukan disebut sampel statistic melainkan sampel teoritis karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menghasilkan teori. Sampel dalam penelitian kualitatif juga sebagai sampel konstruktif, karena dengan sumber data dari sampel itu dapat dikonstruksikan fenomena yang semula masih belum jelas.

Dalam penelitian kualitatif, ada dua teknik sampling yang sering digunakan yakni purposive sampling dan snowball sampling.

1.    Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Misalnya orang tersebut dianggap yang paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek/situasi sosial yang diteliti.

2.    Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data, yang pada awalnya jumlahnya sedikit, lama-lama menjadi besar. Hal ini dilakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit tersebut belum mampu memberikan data yang lengkap maka mencari orang lain lagi yang dapat digunakan sebagai sumber data. Dengan demikian jumlah sampel sumber data akan semakin besar seperti bola saju yang menggelinding, lama-lama menjadi besar.

Oleh karena itu, penentuan sampel dalam penelitian kualitatif dilakukan seiring berjalannya penelitian tersebut sampai terdapat redundancy yaitu data telah jenuh dan tidak ada informasi yang baru lagi dari sampel.

B.  Populasi dan Sampel dalam Penelitian Kuantitatif

1.    Makna Populasi dan Sampel

Suharsaputra mengatakan bahwa penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan angka-angka yang dijumlahkan sebagai data yang kemudian dianalisis.[3] Dalam penelitian kuantitatif, penentuan populasi dan sampel tidak sama seperti dalam penelitian kualitatif. Martono mendefinisikan populasi sebagai keseluruhan objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian, atau keseluruhan atau individu dalam ruang lingkup yang akan diteliti. Sedangkan sampel merupakan bagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti. Atau dapat dikatakan juga sampel adalah anggota populasi yang dipilih dengan menggunakan prosedur tertentu sehingga diharapkan dapat mewakili populasi.[4]

Lebih lanjut Suharsaputra menambahkan bahwa penentuan sampel merupakan langkah penting dalam penelitian kuantitatif, konsep dasar dari penentuan sampel adalah bahwa agregasi dari orang, rumah tangga atau organisasi yang sangat besar yang dapat dikaji secara efektif dan efisien serta akurat melalui pengkajian yang terinci dan hati-hati pada sebagian agregasi yang terpilih. Agregasi (keseluruhan) disebut populasi atau universe yang terdiri dari unit total informasi yang ingin diketahui. Dari populasi yang ingin dikaji kemudian ditentukan sampelnya, melalui prosedur sampling yang sesuai dengan karakteristik populasinya.[5]    

Penelitian bidang sosial dan pendidikan banyak dilakukan dengan menggunakan sampel (Sampling Methods), hal ini tidak hanya karena alasan biaya dan waktu, tapi juga untuk menghindari kekeliruan akibat pengumpulan, pemrosesan dan penganalisaan data dari agregasi yang sangat besar. Dengan penarikan sampel maka estimasi dapat dilakukan secara hipotesis dapat diuji yang hasilnya dapat berlaku terhadap populasi darimana sampel itu diambil. Adapun langkah-langkah dalam penentuan sampel adalah:

a.    Mendefinisikan populasi yang akan dijadikan objek penelitian

b.    Menentukan prosedur sampling

c.    Menentukan besarnya sampel.

Pendefinisian populasi merupakan langkah pertama yang sangat penting. Sesudah diperoleh gambaran tersebut kemudian ditentukan prosedur apa yang akan diambil dalam penentuan sampel, sesudah langkah ini baru kemudian ditentukan besarnya sampel yang akan dijadikan objek penelitian. Sebagai contoh akan dikemukakan berikut ini:

-       Masalah penelitian yang akan dikaji: Akibat pemanfaatan media elektronik terhadap prestasi belajar Siswa Sekolah Dasar di Kota Serang  

-       Populasi Target: Seluruh Siswa Sekolah Dasar di Kota Serang

-       Populasi Terjangkau: Seluruh Siswa Sekolah Dasar di Kecamatan Walantaka Kota Serang

-       Kerangka Sampel: Daftar Nama Siswa yang tercatat pada Dinas Pendidikan Kecamatan Walantaka

-       Sampel: Lima belas persen Siswa Sekolah Dasar di Kecamatan Walantaka Kota Serang.

Penentuan prosedur sampling (Sampling Method) yang akan dipergunakan pada dasarnya sebagian besar tergantung pada ada tidaknya kerangka sampel yang lengkap dan akurat, jika tidak demikian maka diperlukan pembaruan daftar tersebut agarsampel dapat benar-benar menjadi representasi dari populasi.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan sampel adalah bahwa semakin sempit (sedikit) peneliti mendefinisikan (membatasi) populasi semakin efisien dalam waktu dan dana, namun semakin terbatas kemampuan melakukan generalisasi, untuk itu peneliti harus mencari jalan yang efisien dalam waktu dan dana serta kemampuan generalisasi yang lebih luas, dan untuk menghindari kekeliruan pembaca, maka peneliti perlu menggambarkan populasi dan sampel secara rinci, sehingga orang yang membaca hasil penelitian dapat menentukan daya terap (Aplicability) penemuan hasil penelitian terhadap situasi yang berbeda.

Dengan demikian, penentuan sampel dalam penelitian kuantitatif berangkat dari agregasi yang ingin diketahui juga dalam melakukan sampling disesuaikan dengan karakteristik populasinya. Sedikit atau banyaknya pengambilan sampel juga akan mempengaruhi penggunaan waktu, biaya dan tenaga yang harus dikerahkan peneliti ketika melakukan penelitian.

2.    Simple Random Sampling

Menurut Suharsaputra, pengambilan sampel acak sederhana adalah cara pengambilan sampel dimana setiap unsur yang membentuk populasi diberi kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel, cara ini akan sangat mudah apabila telah terdapat daftar lengkap unsur-unsur populasi. Prosedur yang cukup akurat untuk pengambilan sampel secara acak adalah dengan menggunakan tabel angka acak (Table of random numbers), selain itu dapat pula dilakukan dengan cara mengundi.[6] Selanjutnya, Riyanto menyatakan bahwa penggunaan simple random sampling ini sangat mudah dan hasilnya dinilai memiliki tingkat kereprestatifan yang tinggi yang mewakili populasinya.[7] Jadi, teknik simple random sampling ini yang paling mudah diaplikasikan dalam penentuan sampel.

3.    Pengambilan Sampel secara Sistematis

Systematic Sampling sebagai alternative lain pengambilan sampel yang sangat bermanfaat untuk pengambilan sampel dari populasi yang sangat besar. Pengambilan sampel secara sistematis adalah suatu metode dimana hanya unsur pertama dari sampel yang dipilih secara acak, sedang unsur-unsur selanjutnya dipilih secara sistematis menurut suatu pola tertentu. Sebagai contoh Kepala Dinas Pendidikan ingin mengetahui bagaimana Motivasi Kerja Kepala Sekolah di Kota Serang yang berjumlah 1000 orang dan akan mengambil sampel 100 orang Kepala Sekolah, kemudian Nama-Nama Kepala Sekolah disusun secara alpabetis, lalu dipilih sampel per sepuluh Kepala Sekolah, untuk itu disusun nomor 1 sampai 10, lalu diundi untuk memilih satu angka, jika angka lima yang keluar maka sampelnya adalah nomor 5, 15, 25, 35, dan seterusnya sampai diperoleh jumlah sampel yang dikehendaki.

Suharsaputra menambahkan bahwa dalam pengambilan sampel secara sistematis dikenal dua istilah yaitu interval pengambilan sampel (Sampling Intervals), yaitu perbandingan antara populasi dengan sampel yang diinginkan, dan proporsi pengambilan sampel (Sampling Fraction/Sampling Ratio) yaitu perbandingan antara ukuran sampel dengan populasi.[8] Dari contoh diatas sampling intervalnya adalah 1000 : 100 = 10, dan sampling rationya adalah 100 : 1000 = 0,1. Contoh tersebut juga dapat disebut sebagai Systematic Sampling with random start, dimana awal penentuan sampel dilakukan secara acak, baru sesudah itu dilakukan langkah-langkah sistematis sesuai dengan prosedurnya. Dengan demikian, teknik pengambilan sampel secara sistematis membuat penentuan sampel yang dilakukan oleh peneliti lebih terstruktur. 

4.    Pengambilan Sampel Berstrata (Stratified Sampling)

Menurut Suharsaputro, pengambilan sampel berstrata merupakan teknik pengambilan sampel dimana populasi dikelompokkan dalam tertentu, kemudian diambil sampel secara random dengan proporsi yang seimbang sesuai dengan posisinya dalam populasi.[9] Sebagai contoh: seorang Kepala Sekolah ingin mengetahui tanggapan Siswa tentang pelaksanaan program Keterampilan. Jumlah siswa sebanyak 2000 orang dengan komposisi kelas 3 sebanyak 600 siswa, kelas 2 sebanyak 400 siswa dan kelas 1 sebanyak 1000 siswa, besarnya sampel yang akan diambil adalah 200 orang, jika stratanya berdasarkan Kelas maka langkah yang harus dilakukan adalah:

                       a.          Tetapkan proporsi strata dari populasi hasilnya kelas 3 sebesar 30%, kelas 2 sebesar 20% dan kelas 1 sebesar 50%

                       b.          Hitung besarnya sampel untuk masing-masing strata, hasilnya kelas 3 sebanyak 60 siswa, kelas 2 sebanyak 40 siswa dan kelas 1 sebanyak 100 siswa

                       c.          Kemudian pilih anggota sampel untuk masing-masing strata secara acak (random sample)

Cara lain penentuan sampel berstrata adalah menentukan dulu proporsi sampel atau populasi, dalam kasus diatas proporsinya adalah 10% kemudian proporsi ini dikalikan jumlah siswa pada tiap strata dan dan hasilnya akan sama dengan cara diatas. Oleh karena itu, teknik stratified sampling dimulai dengan pengelompokan lalu sampel ditentukan secara random namun tetap dilakukan perhitungan yang sudah ditentukan formulanya.

5.    Pengambilan Sampel Kelompok (Cluster Sampling)

Cluster Sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana pemilihannya mengacu pada kelompok bukan pada individu. Cara seperti ini baik sekali dilakukan apabila tidak terdapat/sulit menentukan/menemukan kerangka sampel. Meski dapat juga dilakukan pada populasi yang kerangka sampelnya sudah ada. Sebagai contoh: Kepala Dinas Pendidikan Kota Serang ingin mengetahui bagaimana sikap Guru SLTP terhadap Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), besarnya sampel adalah 300 orang, kemudian ditentukan Clusternya, misalnya sekolah, jumlah SLTP sebanyak 66 Sekolah dengan rata-rata jumlah Guru 50 orang, maka jumlah cluster yang diambil adalah 300 : 50 = 6, kemudian dipilih secara acak enam sekolah dan dari enam sekolah ini dipilih secara acak 50 orang guru sebagai sampel. Dengan demikian, cluster sampling lebih menekankan pada pengambilan sampel secara kelompok bukan individu.

6.    Menentukan Besarnya Sampel (Sampel Size)

Dalam buku Suharsaputra dikatakan bahwa menurut Pamela L. Alreck dan Robert B. Seetle dalam bukunya The Survey Research Handbook untuk populasi yang besar, sampel minimum kira-kira 100 responden dan sampel maksimumnya adalah 1000 responden atau 10% dengan kisaran angka minimum dan maksimum. Kemudian, Jack E. Fraenkel dan Norman E. Wallen memperinci (meskipun bukan ketentuan mutlak) bahwa minimum sampel adalah 100 untuk studi deskriptif, 50 untuk studi korelasional, 30 per kelompok untuk studi kausal komparatif, L.R Gay dalam bukunya Educational Research menyatakan bahwa untuk riset deskiptif besarnya sampel 10% dari populasi, riset korelasi 30 subjek, riset kausal komparatif 30 subjek per kelompok, dan riset eksperimental 50 subjek per kelompok.[10] Oleh karena itu, dengan berbagai penentuan jumlah sampel yang dikemukakan para ahli memberikan gambaran secara rinci kepada peneliti sehingga dalam pengambilan sampel dapat dilakukan sesuai prosedur dengan mengacu pada teknik sampling yang sudah ada disesuaikan dengan penelitian yang dipilih baik kualitatif maupun kuantitatif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.  Kesimpulan

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian, atau keseluruhan atau individu dalam ruang lingkup yang akan diteliti. Sedangkan sampel merupakan bagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti.

Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, tetapi dinamakan “Social Situation” atau situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen yaitu : tempat (place), pelaku (actors), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis. Sampel dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden, tetapi sebagai nara sumber, atau partisipan, informan, teman dan guru dalam penelitian.

Teknik sampling dalam penelitian kualitatif jelas berbeda dengan yang nonkualitatif. Maksud sampling dalam penelitian kualitatif adalah untuk menjaring sebanyak mungkin informasi dari berbagai macam sumber dan bangunannya (constructions) juga untuk menggali informasi yang akan menjadi dasar dari rancangan dan teori yang muncul. Dalam penelitian kualitatif, ada dua teknik sampling yang sering digunakan yakni purposive sampling dan snowball sampling.

Selanjutnya, penentuan sampel dalam penelitian kuantitatif merupakan langkah penting, konsep dasar dari penentuan sampel adalah bahwa agregasi dari orang, rumah tangga atau organisasi yang sangat besar yang dapat dikaji secara efektif dan efisien serta akurat melalui pengkajian yang terinci dan hati-hati pada sebagian agregasi yang terpilih. Agregasi (keseluruhan) disebut populasi atau universe yang terdiri dari unit total informasi yang ingin diketahui.

Berkaitan dengan populasi dalam penelitian kuantitatif ada yang dikenal dengan populasi target (Target/actual population) dan populasi terjangkau (Accessible population), populasi target adalah populasi yang ingin digeneralisasi oleh peneliti, sedangkan populasi terjangkau adalah adalah populasi yang dapat digeneralisasi oleh peneliti. Ada beberapa teknik sampling dalam penelitian kuantitatif, meliputi simple random sampling, pengambilan sampel secara sistematis, stratified sampling, dan cluster sampling.  

B.  Saran

Kami sadar dalam penyusunan makalah  ini banyak terdapat kekurangan baik dalam hal penulisan maupun dalam hal penyusunan. Untuk itu, kami terima saran dan kritik yang membangun demi perbaikan penyusunan makalah ini.

Demikian makalah ini kami susun semoga bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Martono, Nanang. METODE PENELITIAN KUANTITATIF: Analisis Isi dan Analisis Data Sekunder. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010.

Moleong, J. Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2013.

Riyanto, Yatim. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: SIC, 1996.

Sugiyono, METODE PENELITIAN PENDIDIKAN: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R &D. Bandung: Alfabeta, 2015.

Suharsaputra, Uhar. METODE PENELITIAN: Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan. Bandung: PT Refika Aditama, 2012.

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2013), 224.

 

[2] Sugiyono, METODE PENELITIAN PENDIDIKAN: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2015), 297.

[3] Uhar Suharsaputra, METODE PENELITIAN: Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan (Bandung: PT Refika Aditama, 2012), 113.  

[4] Nanang Martono, METODE PENELITIAN KUANTITATIF: Analisis Isi dan Analisis Data Sekunder (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010), 74.

[5]  Suharsaputra, METODE PENELITIAN: Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan, 114.

[6] Uhar Suharsaputra, METODE PENELITIAN: Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan (Bandung: PT Refika Aditama, 2012), 116.

[7] Yatim Riyanto, Metodologi Penelitian Pendidikan (Surabaya: SIC, 1996), 71.

[8] Suharsaputra, METODE PENELITIAN: Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan, 117.

[9] Suharsaputra, METODE PENELITIAN: Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan, 117.

[10] Suharsaputra, METODE PENELITIAN: Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan, 119.