BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data
dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode penelitian ada beberapa macam,
seperti metode penelitian kualitatif, metode penelitian kuantitatif, metode penelitian
R & D, dsb. Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang
bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Sedangkan penelitian
kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan angka-angka yang dijumlahkan
sebagai data yang kemudian dianalisis.
Penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif memiliki
karakteristik tersendiri yang tentunya berbeda antar satu dengan yang lain,
dimulai dari subjek dan objek penelitian, sumber data, teknik dan instrumen
pengumpulan data serta penentuan populasi dan sampel. Penentuan populasi dan
sampel menjadi salah satu komponen yang penting karena dengan penentuan
populasi dan sampel yang tepat dapat membuat kebenaran dari penelitian tidak
diragukan.
Populasi adalah keseluruhan objek atau subjek yang berada pada
suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah
penelitian, atau keseluruhan atau individu dalam ruang lingkup yang akan
diteliti. Sedangkan sampel merupakan bagian dari populasi yang memiliki
ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti. Dalam makalah ini, penulis
akan membahas tentang bagaimana populasi dan sampel dalam penelitian kualitatif
juga penelitian kuantitatif.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
populasi dan sampel dalam penelitian kualitatif ?
2.
Bagaimana
populasi dan sampel dalam penelitian kuantitatif ?
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahui populasi dan sampel dalam penelitian kualitatif
2. Untuk mengetahui populasi dan sampel dalam penelitian kuantitatif
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Populasi dan Sampel dalam Penelitian Kualitatif
Teknik sampling dalam penelitian kualitatif jelas berbeda dengan
yang nonkualitatif. Pada penelitian nonkualitatif sampel itu dipilih dari suatu
populasi sehingga dapat digunakan untuk mengadakan generalisasi. Maksud
sampling dalam penelitian kualitatif adalah untuk menjaring sebanyak mungkin
informasi dari berbagai macam sumber dan bangunannya (constructions). Maksud kedua dari sampling dalam penelitian
kualitatif adalah menggali informasi yang akan menjadi dasar dari rancangan dan
teori yang muncul. Oleh sebab itu, pada penelitian kualitatif tidak ada sampel
acak, tetapi sampel bertujuan (Purposive Sample).
Moleong mengatakan bahwa sampel bertujuan dapat diketahui dari
ciri-cirinya sebagai berikut:[1]
1)
Rancangan sampel yang muncul: Sampel
tidak dapat ditentukan atau ditarik terlebih dahulu
2)
Pemilihan
sampel secara berurutan: Tujuan
memperoleh variasi sebanyak-banyaknya hanya dapat dicapai apabila pemilihan
satuan sampel dilakukan jika satuannya sebelumnya sudah dijaring dan
dianalisis. Setiap satuan berikutnya dapat dipilih untuk memperluas informasi
yang telah diperoleh terlebih dahulu sehingga dapat dipertentangkan atau diisi
adanya kesenjangan informasi yang ditemui. Dari mana atau dari siapa ia mulai
tidak menjadi persoalan, tetapi bila hal itu sudah berjalan, maka pemilihan
berikutnya bergantung pada apa keperlun peneliti. Teknik sampling bola salju
bermanfaat dalam hal ini, yaitu mulai dari satu menjadi makin lama makin
banyak.
3)
Penyesuaian
berkelanjutan dari sampel: Pada mulanya setiap
sampel dapat sama kegunaannya. Namun, sesudah semakin banyak informasi yang
masuk dan makin mengembangkan hipotesis kerja, akan ternyata bahwa sampel makin
dipilih atas dasar fokus penelitian.
4)
Pemilihan
berakhir jika sudah terjadi pengulangan:
Pada sampel bertujuan seperti ini jumlah sampel ditentukan oleh
pertimbangan-pertimbangan informasi yang diperlukan. Jika maksudnya memperluas
informasi, dan jika tidak ada lagi informasi yang dapat dijaring, maka penarikan
sampel pun sudah dapat diakhiri. Jadi, kuncinya disini adalah jika sudah
terjadi pengulangan informasi, maka penarikan sampel sudah harus dihentikan.
Satuan kajian biasanya
ditetapkan juga dalam rancangan penelitian. Keputusan tentang penentuan sampel,
besarnya dan strategi sampling begitu, pada dasarnya bergantung pada penetapan
satuan kajian. Kadang-kadang satuan kajian itu besifat perseorangan seperti
siswa, klien, pasien yang menjadi satuan kajian. Bila perseorangan itu sudah
ditetapkan sebagai satuan kajian, maka pengumpulan data dipusatkan di
sekitarnya. Yang dikumpulkan adalah apa yang terjadi dalam kegiatannya, apa
yang mempengaruhinya, bagaimana sikapnya, dan semacamnya.
Jika penelitian menghendaki adanya perbandingan antara sekelompok
orang tertentu dengan kelompok lainnya, maka satuan kajiannya jelas bukan lagi
perseorangan, melainkan kelompok. Misalnya penduduk suatu desa pedalaman dapat
merupakan suatu kajian. Keseluruhan
program atau keseluruhan latar, misalnya rumah sakit, penjara, sekolah, dapat
pula menjadi satuan kajian, maka arah perhatian peneliti adalah pada variasi
satuan-satuan tersebut, bukan lagi pada perseorangan didalamnya.
Selanjutnya, Sugiyono mengatakan bahwa dalam penelitian kualitatif
tidak menggunakan istilah populasi, tetapi oleh Spradley dinamakan “Social
Situation” atau situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen yaitu : tempat
(place), pelaku (actors), dan aktivitas (activity) yang
berinteraksi secara sinergis.[2] Tetapi
sebenarnya obyek penelitian kualitatif juga bukan semata-mata pada situasi
sosialyang terdiri atas tiga elemen tersebut, tetapi juga bisa berupa peristiwa
alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, kendaraan dan sejenisnya.
Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan populasi, karena
penelitian kualitatif berangkat dari kasus tertentu dan hasil kajiannya
ditransferkan ke tempat lain pada situasi sosial yang memiliki kesamaan dengan
situasi sosial pada kasus yang dipelajari. Sampel dalam penelitian kualitatif
bukan dinamakan responden, tetapi sebagai nara sumber, atau partisipan,
informan, teman dan guru dalam penelitian. Sampel dalam penelitian kualitatif
juga bukan disebut sampel statistic melainkan sampel teoritis karena tujuan
penelitian kualitatif adalah untuk menghasilkan teori. Sampel dalam penelitian kualitatif
juga sebagai sampel konstruktif, karena dengan sumber data dari sampel itu
dapat dikonstruksikan fenomena yang semula masih belum jelas.
Dalam penelitian kualitatif, ada dua teknik sampling yang sering
digunakan yakni purposive sampling dan snowball sampling.
1.
Purposive
sampling adalah teknik pengambilan sampel
sumber data dengan pertimbangan tertentu. Misalnya orang tersebut dianggap yang
paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa
sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek/situasi sosial yang
diteliti.
2.
Snowball
sampling adalah teknik pengambilan sampel
sumber data, yang pada awalnya jumlahnya sedikit, lama-lama menjadi besar. Hal
ini dilakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit tersebut belum mampu
memberikan data yang lengkap maka mencari orang lain lagi yang dapat digunakan
sebagai sumber data. Dengan demikian jumlah sampel sumber data akan semakin
besar seperti bola saju yang menggelinding, lama-lama menjadi besar.
Oleh karena itu, penentuan sampel dalam penelitian kualitatif dilakukan
seiring berjalannya penelitian tersebut sampai terdapat redundancy yaitu
data telah jenuh dan tidak ada informasi yang baru lagi dari sampel.
B.
Populasi dan Sampel dalam Penelitian Kuantitatif
1.
Makna Populasi dan Sampel
Suharsaputra mengatakan bahwa penelitian kuantitatif adalah
penelitian yang menggunakan angka-angka yang dijumlahkan sebagai data yang
kemudian dianalisis.[3] Dalam
penelitian kuantitatif, penentuan populasi dan sampel tidak sama seperti dalam
penelitian kualitatif. Martono mendefinisikan populasi sebagai keseluruhan
objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat
tertentu berkaitan dengan masalah penelitian, atau keseluruhan atau individu
dalam ruang lingkup yang akan diteliti. Sedangkan sampel merupakan bagian dari
populasi yang memiliki ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti. Atau
dapat dikatakan juga sampel adalah anggota populasi yang dipilih dengan
menggunakan prosedur tertentu sehingga diharapkan dapat mewakili populasi.[4]
Lebih lanjut Suharsaputra menambahkan bahwa penentuan sampel
merupakan langkah penting dalam penelitian kuantitatif, konsep dasar dari
penentuan sampel adalah bahwa agregasi dari orang, rumah tangga atau organisasi
yang sangat besar yang dapat dikaji secara efektif dan efisien serta akurat
melalui pengkajian yang terinci dan hati-hati pada sebagian agregasi yang
terpilih. Agregasi (keseluruhan) disebut populasi atau universe
yang terdiri dari unit total informasi yang ingin diketahui. Dari populasi
yang ingin dikaji kemudian ditentukan sampelnya, melalui prosedur sampling yang
sesuai dengan karakteristik populasinya.[5]
Penelitian bidang sosial dan pendidikan banyak dilakukan dengan
menggunakan sampel (Sampling Methods), hal ini tidak hanya karena alasan
biaya dan waktu, tapi juga untuk menghindari kekeliruan akibat pengumpulan,
pemrosesan dan penganalisaan data dari agregasi yang sangat besar. Dengan
penarikan sampel maka estimasi dapat dilakukan secara hipotesis dapat diuji
yang hasilnya dapat berlaku terhadap populasi darimana sampel itu diambil.
Adapun langkah-langkah dalam penentuan sampel adalah:
a.
Mendefinisikan
populasi yang akan dijadikan objek penelitian
b.
Menentukan
prosedur sampling
c.
Menentukan
besarnya sampel.
Pendefinisian populasi merupakan langkah pertama yang sangat
penting. Sesudah diperoleh gambaran tersebut kemudian ditentukan prosedur apa
yang akan diambil dalam penentuan sampel, sesudah langkah ini baru kemudian
ditentukan besarnya sampel yang akan dijadikan objek penelitian. Sebagai contoh
akan dikemukakan berikut ini:
- Masalah penelitian yang akan dikaji:
Akibat pemanfaatan media elektronik terhadap prestasi belajar Siswa
Sekolah Dasar di Kota Serang
- Populasi Target: Seluruh Siswa Sekolah Dasar di Kota Serang
- Populasi Terjangkau: Seluruh Siswa Sekolah Dasar di Kecamatan Walantaka Kota Serang
- Kerangka Sampel: Daftar Nama Siswa yang tercatat pada Dinas Pendidikan Kecamatan
Walantaka
- Sampel: Lima belas persen Siswa Sekolah Dasar di Kecamatan Walantaka Kota
Serang.
Penentuan prosedur sampling (Sampling Method) yang akan
dipergunakan pada dasarnya sebagian besar tergantung pada ada tidaknya kerangka
sampel yang lengkap dan akurat, jika tidak demikian maka diperlukan pembaruan
daftar tersebut agarsampel dapat benar-benar menjadi representasi dari
populasi.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan sampel adalah bahwa
semakin sempit (sedikit) peneliti mendefinisikan (membatasi) populasi semakin
efisien dalam waktu dan dana, namun semakin terbatas kemampuan melakukan
generalisasi, untuk itu peneliti harus mencari jalan yang efisien dalam waktu
dan dana serta kemampuan generalisasi yang lebih luas, dan untuk menghindari
kekeliruan pembaca, maka peneliti perlu menggambarkan populasi dan sampel
secara rinci, sehingga orang yang membaca hasil penelitian dapat menentukan
daya terap (Aplicability) penemuan hasil penelitian terhadap situasi
yang berbeda.
Dengan demikian, penentuan sampel dalam penelitian kuantitatif
berangkat dari agregasi yang ingin diketahui juga dalam melakukan sampling disesuaikan
dengan karakteristik populasinya. Sedikit atau banyaknya pengambilan sampel
juga akan mempengaruhi penggunaan waktu, biaya dan tenaga yang harus dikerahkan
peneliti ketika melakukan penelitian.
2.
Simple Random Sampling
Menurut Suharsaputra, pengambilan sampel acak sederhana adalah cara
pengambilan sampel dimana setiap unsur yang membentuk populasi diberi
kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel, cara ini akan sangat mudah
apabila telah terdapat daftar lengkap unsur-unsur populasi. Prosedur yang cukup
akurat untuk pengambilan sampel secara acak adalah dengan menggunakan tabel
angka acak (Table of random numbers), selain itu dapat pula dilakukan
dengan cara mengundi.[6] Selanjutnya,
Riyanto menyatakan bahwa penggunaan simple random sampling ini sangat mudah dan
hasilnya dinilai memiliki tingkat kereprestatifan yang tinggi yang mewakili
populasinya.[7]
Jadi, teknik simple random sampling ini yang paling mudah diaplikasikan dalam
penentuan sampel.
3.
Pengambilan Sampel secara Sistematis
Systematic Sampling sebagai
alternative lain pengambilan sampel yang sangat bermanfaat untuk pengambilan
sampel dari populasi yang sangat besar. Pengambilan sampel secara sistematis
adalah suatu metode dimana hanya unsur pertama dari sampel yang dipilih secara
acak, sedang unsur-unsur selanjutnya dipilih secara sistematis menurut suatu
pola tertentu. Sebagai contoh Kepala Dinas Pendidikan ingin mengetahui
bagaimana Motivasi Kerja Kepala Sekolah di Kota Serang yang berjumlah 1000
orang dan akan mengambil sampel 100 orang Kepala Sekolah, kemudian Nama-Nama
Kepala Sekolah disusun secara alpabetis, lalu dipilih sampel per sepuluh Kepala
Sekolah, untuk itu disusun nomor 1 sampai 10, lalu diundi untuk memilih satu
angka, jika angka lima yang keluar maka sampelnya adalah nomor 5, 15, 25, 35,
dan seterusnya sampai diperoleh jumlah sampel yang dikehendaki.
Suharsaputra menambahkan bahwa dalam pengambilan sampel secara
sistematis dikenal dua istilah yaitu interval pengambilan sampel (Sampling
Intervals), yaitu perbandingan antara populasi dengan sampel yang diinginkan,
dan proporsi pengambilan sampel (Sampling Fraction/Sampling Ratio) yaitu
perbandingan antara ukuran sampel dengan populasi.[8]
Dari contoh diatas sampling intervalnya adalah 1000 : 100 = 10, dan sampling
rationya adalah 100 : 1000 = 0,1. Contoh tersebut juga dapat disebut sebagai Systematic
Sampling with random start, dimana awal penentuan sampel dilakukan secara
acak, baru sesudah itu dilakukan langkah-langkah sistematis sesuai dengan
prosedurnya. Dengan demikian, teknik pengambilan sampel secara sistematis
membuat penentuan sampel yang dilakukan oleh peneliti lebih terstruktur.
4.
Pengambilan Sampel Berstrata (Stratified Sampling)
Menurut Suharsaputro, pengambilan sampel berstrata merupakan teknik
pengambilan sampel dimana populasi dikelompokkan dalam tertentu, kemudian
diambil sampel secara random dengan proporsi yang seimbang sesuai dengan
posisinya dalam populasi.[9]
Sebagai contoh: seorang Kepala Sekolah ingin mengetahui tanggapan Siswa tentang
pelaksanaan program Keterampilan. Jumlah siswa sebanyak 2000 orang dengan
komposisi kelas 3 sebanyak 600 siswa, kelas 2 sebanyak 400 siswa dan kelas 1
sebanyak 1000 siswa, besarnya sampel yang akan diambil adalah 200 orang, jika
stratanya berdasarkan Kelas maka langkah yang harus dilakukan adalah:
a.
Tetapkan
proporsi strata dari populasi hasilnya kelas 3 sebesar 30%, kelas 2 sebesar 20%
dan kelas 1 sebesar 50%
b.
Hitung
besarnya sampel untuk masing-masing strata, hasilnya kelas 3 sebanyak 60 siswa,
kelas 2 sebanyak 40 siswa dan kelas 1 sebanyak 100 siswa
c.
Kemudian
pilih anggota sampel untuk masing-masing strata secara acak (random sample)
Cara lain penentuan sampel berstrata adalah menentukan dulu
proporsi sampel atau populasi, dalam kasus diatas proporsinya adalah 10% kemudian
proporsi ini dikalikan jumlah siswa pada tiap strata dan dan hasilnya akan sama
dengan cara diatas. Oleh karena itu, teknik stratified sampling dimulai dengan
pengelompokan lalu sampel ditentukan secara random namun tetap dilakukan
perhitungan yang sudah ditentukan formulanya.
5.
Pengambilan Sampel Kelompok (Cluster Sampling)
Cluster Sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana
pemilihannya mengacu pada kelompok bukan pada individu. Cara seperti ini baik
sekali dilakukan apabila tidak terdapat/sulit menentukan/menemukan kerangka
sampel. Meski dapat juga dilakukan pada populasi yang kerangka sampelnya sudah
ada. Sebagai contoh: Kepala Dinas Pendidikan Kota Serang ingin mengetahui
bagaimana sikap Guru SLTP terhadap Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS),
besarnya sampel adalah 300 orang, kemudian ditentukan Clusternya, misalnya
sekolah, jumlah SLTP sebanyak 66 Sekolah dengan rata-rata jumlah Guru 50 orang,
maka jumlah cluster yang diambil adalah 300 : 50 = 6, kemudian dipilih secara
acak enam sekolah dan dari enam sekolah ini dipilih secara acak 50 orang guru
sebagai sampel. Dengan demikian, cluster sampling lebih menekankan pada
pengambilan sampel secara kelompok bukan individu.
6.
Menentukan Besarnya Sampel (Sampel Size)
Dalam buku Suharsaputra dikatakan bahwa menurut Pamela L. Alreck
dan Robert B. Seetle dalam bukunya The Survey Research Handbook untuk
populasi yang besar, sampel minimum kira-kira 100 responden dan sampel
maksimumnya adalah 1000 responden atau 10% dengan kisaran angka minimum dan
maksimum. Kemudian, Jack E. Fraenkel dan Norman E. Wallen memperinci (meskipun
bukan ketentuan mutlak) bahwa minimum sampel adalah 100 untuk studi
deskriptif, 50 untuk studi korelasional, 30 per kelompok untuk studi
kausal komparatif, L.R Gay dalam bukunya Educational Research menyatakan
bahwa untuk riset deskiptif besarnya sampel 10% dari populasi, riset korelasi
30 subjek, riset kausal komparatif 30 subjek per kelompok, dan riset
eksperimental 50 subjek per kelompok.[10] Oleh
karena itu, dengan berbagai penentuan jumlah sampel yang dikemukakan para ahli
memberikan gambaran secara rinci kepada peneliti sehingga dalam pengambilan
sampel dapat dilakukan sesuai prosedur dengan mengacu pada teknik sampling yang
sudah ada disesuaikan dengan penelitian yang dipilih baik kualitatif maupun
kuantitatif.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek
atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu
berkaitan dengan masalah penelitian, atau keseluruhan atau individu dalam ruang
lingkup yang akan diteliti. Sedangkan sampel merupakan bagian dari populasi
yang memiliki ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti.
Dalam
penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, tetapi dinamakan “Social
Situation” atau situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen yaitu : tempat
(place), pelaku (actors), dan aktivitas (activity) yang
berinteraksi secara sinergis. Sampel dalam penelitian kualitatif bukan
dinamakan responden, tetapi sebagai nara sumber, atau partisipan, informan,
teman dan guru dalam penelitian.
Teknik
sampling dalam penelitian kualitatif jelas berbeda dengan yang nonkualitatif.
Maksud sampling dalam penelitian kualitatif adalah untuk menjaring sebanyak
mungkin informasi dari berbagai macam sumber dan bangunannya (constructions) juga untuk menggali
informasi yang akan menjadi dasar dari rancangan dan teori yang muncul. Dalam
penelitian kualitatif, ada dua teknik sampling yang sering digunakan yakni purposive
sampling dan snowball sampling.
Selanjutnya,
penentuan sampel dalam penelitian kuantitatif merupakan langkah penting, konsep
dasar dari penentuan sampel adalah bahwa agregasi dari orang, rumah tangga atau
organisasi yang sangat besar yang dapat dikaji secara efektif dan efisien serta
akurat melalui pengkajian yang terinci dan hati-hati pada sebagian agregasi
yang terpilih. Agregasi (keseluruhan) disebut populasi atau universe
yang terdiri dari unit total informasi yang ingin diketahui.
Berkaitan
dengan populasi dalam penelitian kuantitatif ada yang dikenal dengan populasi
target (Target/actual population) dan populasi terjangkau (Accessible
population), populasi target adalah populasi yang ingin digeneralisasi oleh
peneliti, sedangkan populasi terjangkau adalah adalah populasi yang dapat
digeneralisasi oleh peneliti. Ada beberapa teknik sampling dalam penelitian
kuantitatif, meliputi simple random sampling, pengambilan sampel secara
sistematis, stratified sampling, dan cluster sampling.
B.
Saran
Kami
sadar dalam penyusunan makalah ini
banyak terdapat kekurangan baik dalam hal penulisan maupun dalam hal
penyusunan. Untuk itu, kami terima saran dan kritik yang membangun demi
perbaikan penyusunan makalah ini.
Demikian
makalah ini kami susun semoga bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca
pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Martono,
Nanang. METODE PENELITIAN KUANTITATIF: Analisis Isi dan Analisis Data
Sekunder. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010.
Moleong, J. Lexy. Metodologi
Penelitian Kualitatif. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2013.
Riyanto,
Yatim. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: SIC, 1996.
Sugiyono,
METODE PENELITIAN PENDIDIKAN: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R
&D. Bandung: Alfabeta, 2015.
Suharsaputra,
Uhar. METODE PENELITIAN: Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan. Bandung:
PT Refika Aditama, 2012.
[1] Lexy J.
Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT REMAJA
ROSDAKARYA, 2013), 224.
[2] Sugiyono, METODE
PENELITIAN PENDIDIKAN: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung:
Alfabeta, 2015), 297.
[3]
Uhar Suharsaputra, METODE PENELITIAN: Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan
(Bandung: PT Refika Aditama, 2012), 113.
[4] Nanang
Martono, METODE PENELITIAN KUANTITATIF: Analisis Isi dan Analisis Data
Sekunder (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010), 74.
[5] Suharsaputra, METODE PENELITIAN:
Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan, 114.
[6] Uhar
Suharsaputra, METODE PENELITIAN: Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan
(Bandung: PT Refika Aditama, 2012), 116.
[7] Yatim Riyanto,
Metodologi Penelitian Pendidikan (Surabaya: SIC, 1996), 71.
[8] Suharsaputra, METODE
PENELITIAN: Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan, 117.
[9] Suharsaputra, METODE
PENELITIAN: Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan, 117.
[10] Suharsaputra, METODE
PENELITIAN: Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan, 119.