Sabtu, 18 Oktober 2014

mungkinkah

aku biasa, kamu luar biasa.
aku bukan apa2, kamu orang hebat.
aku belum bisa apa2, kamu bisa segalanya.
apa mungkin ???

Jumat, 17 Oktober 2014

GURU SEJATI

GURU SEJATI
( Membangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas)

Bedah Buku Mata Kuliah Psikologi
Description: http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/50270_277875844121_3353541_n.jpg
Disusun Oleh:
Kelompok I (Satu)
NAMA :
NPM :
Nila Sari
1184202046
Nurhandini
1184202050
Husnul Khotimah
1184202077
Aniatul Karomah
1184202180
Liseu Taqillah
1184202183
Nur Azizah
1184202120
Kelas 4A2
Prodi. Pendidikan Matematika
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
Jl. Perintis Kemerdekaan 1/33 Cikokol Kota Tangerang


BAB I
PENDAHULUAN
Guru yang biasa, berbicara
Guru yang bagus, menerangkan
Guru yang hebat, mendemonstrasikan
Guru yang agung, member inspirasi
(William Athur Ward, Jurnalis)
Keluaran pendidikan seharusnya dapat menghasilkan orang “pintar” tetapi juga orang “baik” dalam arti luas. Pendidikan tidak hanya menghasilkan orang “pintar” tetapi “tidak baik” , sebaliknya juga pendidikan tidak hanya menghasilkan orang “baik” tetapi “tidak pintar”.
Orang yang “pintar” saja tetapi “tidak baik” akan menghasilkan orang yang “berbahaya” karena dengan kepandaiannya ia bisa menjadikan sesuatu menyebabkan kerusakan dan kehancuran.
Setidak-tidaknya pendidikan masih lebih bagus menghasilkan orang “baik” walaupun tidak “pintar”. Tipe ini paling tidak akan memberikan suasana kondusif, karena ia memiliki akhlak yang baik.
Thomas Stanley dalam Stain and Book (2003: 35) mengemukakan lima factor teratas yang dianggap paling berperan dalam keberhasilan, yaitu :
1.    Jujur kepada semua orang
2.    Menerapkan disiplin
3.    Bergaul baik dengan orang lain
4.    Memiliki suami atau istri yang mendukung dan
5.    Bekerja lebih giat daripada kebanyakan orang
Gambaran diatas menunjukan bahwa untuk memperoleh kesempatan kerja diperlukan kompetensi yang komfleks dan komprehensif. Jika dikaitkan dengan kecerdasan, maka bukan hanya kecerdasan intelektual yang diperlukan tetapi juga kecerdasan yang lain.
Kaitannya dengan bidang pendidikan, terutama pendidik atau guru yang tugasnya menyiapkan calon sumber daya manusia (SDM) di masa depan maka ia hatus memiliki kualifikasi dan kompetensi yang memadai.
Tantangan pendidik dewasa ini untuk menghasilkan SDM yang berkualitas dan tangguh semakin berat. Pendidikan tidak cukup hanya berhenti pada memberikan pengetahuan yang paling mutakhir, namun juga harus mampu membentuk dan membangun sistem keyakinan dan karakter kuat  peserta didik sehingga mampu mengembangkan potensi diri dan menemukan tujuan hidupnya.
Pendidikan disekolah tidak lagi cukup hanya dengan mengajak peserta didik membaca, menulis, dan berhitung, kemudian lulus ujian, dan nantinya mendapatkan pekerjaan yang baik. Sekolah harus mampu mendidik peserta didik untuk mampu memutuskan apa yang benar dan salah. Sekolah juga perlu membantu orang tua untuk menemukan tujuan hidup setiap peserta didik.
Guru harus memiliki komitmen yang kuat dalam melaksanakan pendidikan secara holistik yang berpusat pada potensi dan kebutuhan peserta didik. Pendidik juga harus mampu menyiapkan peserta didik untuk bisa menangkap peluang dan kemajuan dunia dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Akan tetapi, disisi lain, pendidikan juga harus mampu mebukakan mata hati peserta didik untuk mampu melihat masalah –masalah bangsa dan dunia, seperti kemisikna, kelaparan, kesenjangan, ketidakadilan, dan persoalan lingkungan hidup.
Peserta didik harus diarahkan untuk mampu mengembangkan dirinya, tetapi ia juga harus diajarkan untuk memiliki beban atau panggilan hidup untuk menjadi bagian dari pemecahan persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa dan dunia.
Agar guru mampu menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran, maka diperlukan sosok guru yang berkarakter kuat dan cerdas.
Sosok guru yang berkarakter kuat dan cerdas diharapkan mampu mengembangkan amanah dalam mendidik peserta didiknya. Untuk menjadi guru atau tenaga pendidik yang handal harus memiliki seperangkat kompetensi. Kompetensi utama yang harus melekat pada tenaga pendidik adalah nilai-nilai keamanahan, keteladanan, dan mampu melakukan pendekatan pedagogis serta mampu berfikir dan bertindak cerdas.

BAB II
LAGU, TEMBANG, DAN HIMNE GURU
Pada bab ini dinyatakan bahwa menjadi seorang guru merupakan suatu pekerjaan yang mulia bahkan sangat mulia sampai-sampai yang demikian itu dinyatakan dalam sebuah lagu, syair, dan lain sebagainya. Menjadi guru merupakan profesi yang mulia, seperti halnya makna dalam beberapa lagu, diantaranya:
A.      Himne Guru
(L/S = Sartono)
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
S’bagai prasasti t’rima kasihku ‘tuk pengebdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa
Lagu tersebut menjelaskan bahwa seorang peserta didik yang sangat mengenang jasa seorang guru yang telah mendidiknya, dan juga mengandung makna bahwa menjadi guru merupakan profesi yang mulia, penuh pengabdian, dan memiliki peran yang sangat bernilai dalam rangka menyiapkan SDM bangsa.
B.       Pak Guru
(Murry, Koes, Plus)
Abot sanggane tugase bapak guru
Saben dinane mimpin putra putrine
Pancen pak guru kudu sabar antine
Bungah lan susah wis dadi tunggungane
Ngelingano mbesuk yen kowe mukti
Pituture ojo nganti dilaleke
Esuk lan sore penjaluke pak guru
Supoyo mulyo kabeh putra putrine
Lagu tersebut menjelaskan betapa berat tanggung jawabnya tugas pak guru, setiap hari mendidik putra – putrinya, suka dan duka hal biasa yang dialaminya dan sudah menjadi resikonya, dan satu hal yang harus dipegang oleh peserta didik adalah jika kelak di kemudian hari  menjadi “orang”, janganlah lupakan pesan dan nasihat guru. Artinya ia tetap pada jalan yang benar, ia tetap memiliki prinsip dan selalu istiqomah sehingga ia tetap hidup mulia dan bahagia.
C.      Semua Sama
(Yok Koeswoyo Plus)
Salah satu syairnya berbunyi :
Oh guru sungguh mulia pengabdianmu
Oh guru penuntut ilmu
Syair singkat ini menunjukkan betapa mulia kedudukan seorang guru. Di samping memiliki pengabdian yang tinggi ia juga sebagai pengemban dan penuntut ilmu.
D.      Oemar Bakri
(Iwan Fals)
Tas hitam dari kulit buaya
Selamat pagi berkata bapak Oemar Bakri
Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali
Tas hitam dari Kulit Buaya
Mari kita pergi memberi pelajaran ilmu pasti
Itu murid bengalmu mungkin sudah menunggu
Laju sepeda kumbang di jalan berlubang
Selalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang
Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang
Banyak polisi bawa senjata berwajah garang
Bapak Oemar Bakri kaget ada apa gerangan
Berkelahi pak, jawab murid seperti jagoan
Bapak Oemar Bakri tukut bukan kepalang
Itu sepeda butut dikebut lalu cabut kalang kabut cepat pulang
Buset ….. standing dan terbang
Oemar Bakri, Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri, Oemar Bakri
40 tahun mengabdi jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri, Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri professor, dokter, insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikeburi
Itu sepeda butut dikebut lalu cabut kalang kabut Bakri kentut bawa pulang
Oemar Bakri, Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri, Oemar Bakri
40 tahun mengabdi jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri, Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri bikin otak orang seperti Habibi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikeburi
Lagu Oemar Bakri ini menggambarkan betapa besar perjuangan, pengabdian, kesederhanaan seorang guru, dan guru tersebut mampu mendidik murid – muridnya hingga jadi. Namun, di sisi lain, menggambarkan nasib seorang guru yang belum mendapat perhatian yang wajar dan layak sehingga penampilan fisik dan lahiriahnya sangat kekurangan dan tebatas.

BAB III
PENDIDIKAN KARAKTER
A.       Karakter
Karakter merupakan suatu sikap dan sifat yang melekat pada setiap individu, dimana pada masing – masing individu itu berbeda. Secara harfiah karakter artinya “kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi: (Hornby dan Parnwell, 1972: 49). Menurut kamus lengkap Bahasa Indonesia, karakter adalah sifat – sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak.
Maka dapat disimpulkan bahwa pengertian karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atu moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang membedakan dengan individu lain. Dengan demikian, dapat dikemukakan juga bahwa karakter pendidik adalah kualitas mental atau kekuatan moral, akhlak atau budi pekerti pendidik yang merupakan kepribadian khusus yang harus melekat pada pendidik.
Seorang pendidik dikatakan berkarakter jika ia memiliki nilai dan keyakinan yang dilandasi hakikat dan tujuan pendidikan serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Dengan demikian pendidik yang berkarakter, berarti ia memiliki kepribadian yang ditinjau dari titik tolak etis atau moral, seperti sifat kejujuran, amanah, keteladanan, ataupun sifat – sifat lain yang harus melekat pada diri pendidik.
Aa Gym (2006 : 66) mengemukakan bahwa karakter itu terdiri dari empat hal.
·      Pertama, karakter lemah; misalnya penakut, tidak berani mengambil resiko, pemalas, cepat kalah, belum apa – apa sudah menyerah, dan sebagainya.
·      Kedua, karakter kuat; contohnya tangguh, ulet, mempunyai daya juang yang tinggi, atau pantang menyerah.
·      Ketiga, karakter jelek; misalnya licik, egois, serakah, sombong, pamer, dan sebagainya.
·      Keempat, karakter baik; seperti jujur, terpercaya, rendah hati, dan sebagainya.
Nilai – nilai utama yang menjadi pilar pendidik dalam membangun karakter kuat adalah amanah dan keteladanan. Beberapa faktor penyebab rendahnya pendidikan karakter adalah:
1.    Sistem pendidikan yang kurang menekankan pembentukan karakter tetapi lebih menekankan pengembangan intelektual, seperti Ujian Nasional (UN)
2.    Kondisi sosial yang kurang mendukung pembangunan karakter yang baik.

B.       Pentingnya Pendidikan Karakter
UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Ellen G. White dalam Sarumpaet (2001 : 12) mengemukakan bahwa pembangunan karakter adalah usaha paling penting yang pernah diberikan kepada manusia. Pembangunan karakter adalah tujuan luar biasa dari system pendidikan yang benar . jika bukan mendidik dan mengasuh anak – anak untuk perkembangan tabiat yang luhur, buat apakan sistem pendidikan itu? Baik dalam pendidikan rumah tangga maupun pendidikan dalam sekolah, orang tua dan guru tetap sadar bahwa pembangunan tabiar yang agung adalah tugas mereka.
Slamet Imam Santoso (1981: 33) mengemukakan bahwa tujuan tiap pendidikan yang murni adalah menyusun harga diri yang kukuh-kuat dalam jiwa pelajar, supaya mereka kelak dapat bertahan dalam masyarakat. Di bagian yang lain Slamet Imam Santoso (1979: iii) juga mengemukakan bahwa pendidikan bertugas mengembangkan potensi individu semaksimal mungkin dalam batas – batas kemampuannya, sehingga terbentuk manusia yang pandai, terampil, jujur, tahu kemampuan dan batas kemampuannya, serta mempunyai kehormatan diri. Dengan demikian, pembinaan watak merupakan tugas utama pendidik.
Ada dua pendapat tentang pembentukan atau pembangunan karakter, yaitu :
·         Di satu sisi, berpendapat bahwa karakter merupakan sifat bawaan dari lahir yang tidak dapat atau sulit diubah atau dididikan.
·         Di sisi lain, berpendapat bahwa karakter dapat diubah atau dididik melalui pendidikan.
Platform pendidikan karakter bangsa Indonesia telah dipelopori oleh tokoh pendidikan kita Ki Hajar Dewantoro yang tertuang dalam tiga kalimat (walupun konsep ini belum sepenuhnya dapat diterapkan oleh bangsa kita), yang berbunyi :
Ing ngarsa sung tuladha
Ing madya mbangun karsa
Tut wuri handayani
Ing ngarsa sung tuladha (Di depan memberi teladan). Maksudnya ketika berada di depan memberikan teladan, contoh, dan panutan, jadi, seorang guru haru memberikan teladan, contoh, dan panutan – panutan yang baik kepada para peserta didik, sehingga bias dijadikan telada bagi peserta didik.
Ing madya mbangun karsa (Di tengah membangun Kehendak). Maksudnya ketika seorang guru berada di tengah peserta didiknya, hendaknya bisa menjadi penyatu tujuan dan cita – cita peserta didiknya.
Tut wuri handayani (Di belakang memberikan dorongan). Maksudnya ketika seorang guru berada di belakang peserta didiknya, ia memberikan dorongan dan motivasi bagi peserta didiknya, sehingga peserta didik memiliki semangat dan daya juang dalam mengembangkan potensi yang ada pada dirinya.
Guru yang memiliki makna “didugu dan ditiru” (dipercaya dan dicontoh) secara tidak langsung juga memberikan pendidikan karakter kepada peserta didiknya. Oleh karena itu, profil dan penampilan seorang guru harus memiliki sifat – sifat yang membawa peserta didiknya ke arah pembentukan karakter yang kuat. Dalam konteks ini guru berperan sebagai teladan peserta didiknya.

BAB IV
BERSYUKUR MENJADI PENDIDIK ( GURU )
Bersyukur merupakan faktor penting dalam kehidupan yang berhasil. Guru yang bersyukur selalu fokus apa yang dimiliki, memilki apa yang ada bukan berarti menyesali dan maratapi apa yang tiada ada atau hilang deari genggaman kita. Kita tidak selalu dapat memperoleh apa yang kita inginkan, namun sesungguhnya kita juga dapat menikmati apa yang kita miliki.
Perwujudan bersyukur terhapat sesuatu kenikmatan yang telah diterima bukan sekeder suatu ucapan atau pernyataan tetapi juga berkaitan dengan tindakan. Maka dari itu jika profesi pendidik dipandang sebagai nikmat, maka sebagai bentuk perwujudan rasa bersyukur dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.        Menerima secara positif propesi guru.
Seorang guru yang jarang msuk mengajar atau tidak sungguh-sungguh bekerja berarti ia termasuk tidak mensyukuri nimat sebagai guru. Dapat dikatakan ia mau menerima gaji tetapi tidak mau melaksanakan kewajibannya.

2.        Tidak dzalim terhadap profesi guru
Dzalim yang dimaksudkan disini adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Misalnya seorang guru seharusnya masuk untuk mengajar, tetapi tidak masuk mengajar,. Atau seharusnya masuk jam 07.00 tetapi datang terlambat jam 07.30 atau seharusnya pada  jam-jam tertentu mengajar dikelas tetapi melakukan aktifitas lainyang tidak ada kaitannya dengan tugasnya.
               
3.        Mengembangkan profesi guru.
Jika seorang guru sudah merasa aman menjadi guru, apalagi sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).ia merasa aman tidak akan dipecat jika tidak melanggar hal-hal yang prinsip, apalagi ia juga mendapatkan pensiun dihari tua nanti. Kemudian bekerja dengan prinsip begini saja sudah bisa atau sudah cukup tanpa mengembangkan dan bekerja sungguh-sungguh. Dan bahkan seorang guru banyak mengikuti seminar hanya untuk mencari sertifikat untu kenaikan pangkat dan kepentingan lain.
Ilmu adalah sebagai penerang yang mampu mengubah jalan keburukan, kebodohan yan melahirkan kebijaksanaan dalam berbagai masalah-masalah kehidupan. Mencari ilmu memiliki kedudukan yang istimewa bila diabndingkan dengan kegiatan lain , sebagai berikut:
1.         Tanpa syarat
2.         Tanpa batas waktu
3.         Dialksanakan sepanjang hayat
4.         Satu-satunya kegiatatan yang diperboehkan serakah
5.         Sifatnya wajib

 BAB V
MENDIDIK SEBAGAI AMANAH
Dalam dunia pendidikan amanah terutama terjadi antara masyarakat sebagai pemberi amanah dan lembaga pendidikan sebagai penerima amanah. Masyarakat menitipkan atau menyerahkan anaknya untuk mengikuti proses studi kepada instuisi pendidikan yang mengelola amanah tersebut untuk mencapai tujuan tertentu, orang tua menyerahkan anaknya kepada guru agar dididik dan dikembangkan potensinya. Sifat amanah tidak terlepas dari sifat jujur. Dapat dikatakan bahwa kejujuran merupakan pilar utama dalam mengemban amanah.
Upaya dalam menegakan amanah diperlukan adanya :
1.    Komitmen
Komitmen merupakan ucapan yang mengikat seseorang untuk melakukan sesuatu ingkar atau janji. Jika definisi tersebut dapat diajadikan acuan, maka komitmen pendidik dapat didefniskan sebagai salah satu tekad yang mengikat seorang pendidik untuk melaksanakan tugas dan tnggung jawabnya sebagai pendidik.
Amanah dan memenuhi janji merupakan dua hal yang tak dapt dipisahkan. Jika salah satunya tidak ada atau tidak dipenuhi maka tidak akan ada artinya. Orang yang amanah berarti ia juga jujur bila ia dapat menepati janjinya. Orang yang memenuhi janji berarti  ia memiliki komitmen untuk memegang amanah. Amanah dan memenuhi janji harus dilakukanoleh seorang guru. Pendidik yang memiliki komitmen tinggi dalam melaksankan tugasnya. Tanpa komitmen yang kuat suatu tujuan tidak akan tercapai secara optimal, bahkan dapat menuai suatu kegagalan, orang ynag mengambaikan amanah akan berakibat bukan hanya kegagalan tetapi mengakibatkan kehancuran. Berdasarkan pengamatan, pengalaman, dan kajian penulis lakukan, ada lima halyang berkaitan dengan komitmen yang dapat dilakukan agar sesorang pendidik dapat melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Omitmen yang dimaksud adalah :
1.    Memiliki visi kedepan dan tekad dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik.
2.    Memiliki karakter budi pekerti dan ahlak mulia
3.    Mampu mengelola dan mengontrol diri dalam mendidik peserta didik.
4.    Mampu melakukan yang terbaik dalam mengembangkan potensi peserta didik
5.    Bekerja keras dan penuh pengabdian.

2.    Kompeten
Kompeten merupakan kemampuan yang harus dipupuk dan dikembnagkan melalui berbagai proses pembelajaran, pengalaman, menekuni pekerjaan dengan sungguh-sungguh, dan bahkan berani mengmbil resiko untuk menghadapi tantangan. Guru yang kompeten adalah sosok yang harus merasa kekurangan dalam menimba ilmu dan juga menginginkan agar peserta didiknya memiliki kompetensi bahkan mengiginkan kompetensi peserta didiknya melebihi gurunya. Guru yang kompeten dapat digambarkan sebagai kemampuan seorang guru dalam menyelenggarakan pembelajaran dan kemmpuan memecahkan berbgai masalah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Dan guru yang kompeten juga akan memberikan kepercayaan diri kepada muridnya. Murid kan melihat gurunya sebagai sosok yang pantas dipercaya, tidak hanya dari kata-katadan perbuatannnya tetap juga kompetensi atau keahlianya.
Kompetensi sebagai agen pada ajang jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan usia dini meliputi :
1.    Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahanan, peserta didik, perancangan, dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. 

2.    Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian adlah kmampuan kepribadian yang mantab, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa serta menjdi teladan bagi peserta didik dan ahlak mulia.

3.    Kompetensi Sosial
Komampuan sosial dalah kemampuan pendiik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi da bergaul secara efektif dangan peserta didik, sesama peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua atau wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

4.    Kompetensi Profesional.
Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidik.

3.    Kerja keras
Kerja keras dapat didefinisikan sebagai kemmpuan mencurahkan ataumengarahkan seluruh usaha dan kesungguhan, potensi yang dimiliki sampai akhir masa suatu urusan hingga tujuan tercapai.  Kerja keras berkaitan erat dengan keberhasilan dari suatu usaha. Orang yang berkerja keras akan selalu memperbaiki suatu keadaan baik yang menyangkut dirinya maupun lingkungannya. ‘’ buatlah usaha anda berhasil dengan sat-satunya cara kerja keras’’ (Mark Cuban, Owner Dallas Maverick)

4.    Konsisten
Guru dalam mengemban tugasnya harus memiliki konsistensi, berarti ia slalu istiqomah, ajeg, fokus dan sabar serta ulet. Guru yang selalu melkaukan perbaikan secara terus menerus juga termasuk guru yang konsisten.
a.    Istiqomah
Sikap istiqomah menunjukan kekuatan iman yang merasuki seluruh jiwanya, sehingga ia tidak mudah goncang atau cepat menyerah pada tantangan atau tekanan. Guru harus istiqomah, artinya harus ia harus teguh dalam memegang prinsip dan memiliki pendirian yang kuat. Guru yang dalam bekerja selalu mendasarkan pada norma, aturan, dan kaidah berarti ia termasuk orang yang istiqomah.

b.    Ajeg
Guru harus secara ajeg melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi pekerjaannya. Ajeng yang dimaksud adalah ia secara terus menerus, berkesinambungan, tekun, rutin, dan secara teratur melakukan sesuatu dalam waktu relatif lama. Seorang guru selalu dan ajeg belajar maka ia akan selalu berkembang ilmunya.

c.    Fokus
Guru harus fokus dalam bidang studi tertentu yang menjadi keahlianya sehingga ia memiliki konsentrasi kajian yang mendalam.

d.   Sabar serta Ulet
Guru yang konsisten, ia selalu sabar dan ulet, ia juga harus mau dan mampu melakukan sesuatu dalam waktu relatif dalam walupun banyak cobaan, rintangan, ataupun tantangan.

BAB VI
MENDIDIK DENGAN KETELADANAN
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasalullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah (Al – Ahzab/33:21).
Keteladanan hendaknya diartikan dalam arti luas, yaitu berbagai ucapan, sikap, dan perilaku yang melekat pada pendidik. Jika hal ini telah dilakukan dan di biasakan dengan baik sejak awal, maka akan memiliki arti penting dalam membentuk karakter sebagai seorang guru yang mendidik.
Keteladanan telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dengan sangat berhasil, karena Muhammad adalah “Guru manusia: guru bangsa, guru ummat, atau guru paripurna, bahkan dapat dikatakan sebagai guru multidimensi yang tiada taranya”. M. Syafii Antoni (2007: 218) menyatakan bahwa salah satu faktor penting kejayaan pendidikan Rasullah SAW adalah karena beliau menjadikan dirinya sebagai model dan teladan bagi umatnya. Keteladanan yang dilakukan rasullah , mengandung dua unsur, yaitu meodik-implementatif. Dengan dua unsur tersebut berdampak berdampak daya serap dan hasil pendidikan (termasuk pembelajaran yang tinggi).
Keteladan yang bersifat metodik-implementatif akan tergambar bagaimana cara – cara menerapkan. Dengan diketahui dan dihamainya aspek metodik tersebut, maka akan memudahkan untuk diterapkan sehingga apa yang telah diteladankan akan menjadi menarik dan menyenangka. Maka seharusnya sebagai guru menerapkan “Mata pelajaran hidup”: “Geografi hidup, fisika hidup dan sebagainya”. Artinya kedalaman dan keluasan ilmu (bidang studi) guru batul – betul terandalkan.
A.                Faktor Keteladanan
Keteladanan yang bersifat Multidimensi, yakni keteladanan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kebiasaan-kebiasaan yang baik merupakan contoh bentuk keteladanan. Keteladanan dalan pendidikan merupakan pendekatan tau metode yang sangat berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk dan mengembangkan potensi peserta didik.
Ada tiga unsur agar seseorang dapat diteladani dan menjadi teladan, yaitu:
1.        Kesiapan untuk Dinilai dan Dievaluasi
Kesiapan untuk dinilai berarti adanya kesiapan menjadi cermin bagi dirinya maupun orang lain, yang berdampak pada kehidupan sosial di masyarakat, karena ucapan, sikap, dan perilaku menjadi sorotan dan teladan.

2.        Memiliki Kompetensi Minimal
Kompetensi yang dimaksud adalah kondisi minimal ucapan, sikap, dan perilaku yang harus dimiliki seseorang sehingga dapat dijadikan cermin bagi dirinya maupun orang lain.

3.        Memiliki Integritas
Integritas alah adanya kesamaan antara ucapan dan tindakan atau satunya kata dan perbuatan atau terletk pada kualitas istiqomahnya.

B.       Pendidik sebagai Cermin
Orang mu’min adalah cermin bagi orang mu’min (yang lain). Jika ia melihat cela padanya maka diperbaikinya (HR. Bukhari).
Cermin sevara filosofi memiliki makna sebagai berikut:
1.    Tempat yang Tepat untuk Instrospeksi
Sebagai pendidik,kita harus siap menjadi tempat wawas diri, koreksi diri, atau introspeksi. Untuk itu kita menjadi curahan.

2.    Mencermin dan menampakkan apa adan Menampakkan Apa Adanya
Cermin memiliki karakteristik bersedia menerima dan memperlihatkan apa adanya.

3.    Menerima Kapan pun dan dalam Keadaan Apa pun
Sebagai pendidik harus memiliki sifat – sifat seperti pengabdian, setia, sabar, dan lain – lain.

4.    Tidak Pilih Kasih / tidak Deskriminatif
Sebagai pendidik harus memiliki jiwa mendidik kepada siapapun tanpa pandang bulu, semua anak (manusia) apa pun kondisinya harus dididik, tanpa kecuali. Bahkan kita tidak di benarkan memisah – misahkan atau memilih – milih kondisi siswa (exclusive), tetapi kita dalam didik harus bersifat inklusif (inclusive).

5.    Pandai Menyimpan rahasia
Sebagai pendidik yng pandai menyimpan rahasia ia juga memiliki sifat – sifat, seperti ukhwah atau persaudaraan, peduli, kebersamaan, tidak menjatuhkan, tidak mempermalukan orang lain, mengorangkan, dan lain – lain.
Memberi teladan itu mudah tetapi menjadi teladan itu tidak mudah


C.      Mendidik Dengan Keteladanan
1.         Kesederhanaan
Kami tak berkedip menatap sang juru kisah yang ulung ini.pria ini buruk rupa dan buruk pula setiap apa yang disandangnya, tapi pemikirannya jernih dan kata – katanya bercahaya. Jika ia mengucapkan sesuatu kami pun terpaku menyimaknya dan tak sadar menunggu untaian kata berikutnya.

2.    Kedekatan
Seperti yang tercermin pada diri Nabi Muhammad SAW yaitu pada saat menjelang akhir hayat, beliau mendapat kesempatan menghadap Allah SWT pun memperlihatkan rasa perhatian dan kecintaan yang luar biasa. Bahkan Nabi memperjuangkan umatnya agar apa yang telah dididiknya secara konsisten diperjuangkan dengan sungguh – sungguh.

3.    Suasana Silaturahmi
Silaturahmi merupakan gabungan dua kata,yaitu”shilah”dan “ar rahm’’. “shilah” artinya hubungan atau menghubungkan, sedangkan “ar rahm” artinya lembut dan kasih sayang. Dalam sebuah hadist dinyatakan:.....sambunglah tali persaudaraan kepada orang yang memutuskanmu”..........
Jika seorangyang telah memutuskan hubungan sajakita diminta untuk menyambungnya maka dalam kondisi hubungan yang baik harus diperhatikan.Oleh karena itu, hal ini sesuai dengan pengertian “shilah”, yang artinya 1. Menyambung yang putus; 2. Menjaga yang telah sambung; 3. Memperkokoh dan mengembangkan yang telah baik.
Fungsi silaturrahim antara lain adalah menumbuhkan rasa kecintaan dan rasa salins peduli.
4.    Pelayanan Maksimal
Tugas utama guru adalah memfasilitasi murid, yang biasa disebut guru sebagai fasilitator. Memfasilitasi yang dimaksud pada hakikatnya sebagai perwujudan bentuk pelayanan guru kepada murid (guru sebagai pelayan).
Inti pelayanan terletak pada bagaimana guru mampu mempermudah dan memperlancar murid agar terdorong belajar secara aktif. Dengan kata lain, pelayan guru diarahkan pada “ student centered” (berpusat pada siswa) bukan “ teacher centered” (berpusat pada guru).
Penyelenggaraan pembelajaran sebagai wujud pelayanan maksimal, guru dapat mengadopsi filosofi jawa dalam menerima, menghormati, dan melayani tamu dalam suatu penjamuan. Filosofi tersebut diejawantahkan dalam empat sikap dan perilaku “4-uh”, yaitu :
a.         Aruh (tegur – sapa)
Dimana murid akan merasa senang jika disambut dengan ramah dan hangat oleh guru. Dengan demikian guru akan menampakkan kesiapan dan kesungguhan dalam menyelenggarakan pembelajaran yang akan diikuti murid.  Konsep “aruh”. Ditearpakan dengan cara murid “hormat” kepada guru pada saat kelas kan dimulai dan ditutup.
b.         Gupuh (tergopoh – gopoh)
Dimana guru dalam menyelenggaraan pembelajaran akan sibuk dan penuh perhatian melayani agar murid merasa nyaman mengikuti proses pembelajaran.
c.         Lungguh (duduk – tempat)
Dalam proses pembelajaran guru sebaiknya dapat men “setting” tempat pembelajaran yang tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Jika “setting” tempat ini dapat dilakukan guru dengan baik maka akan menumbuhkan suasana pembelajaran yang konduksif.
d.        Suguh (hidangan – saji)
Dalam proses pembelajaran “suguh” yang dimaksudadalah bagaimana guru daapat menyajikan pembelajaran yang efektif sehingga tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai. Penyajian pembelajaran yang menarik, setidak – tidaknya berkaitan dengan isi atau materi maupun pendekatannya.

BAB VII
MENDIDIK DENGA HATI
A.      Pentingnya Hati
Ketahuilah, didalam tubu itu ada segumpal daging, apabil ia baik, maka baikpulalah seluruh tubuh.dan apabila rusa, maka rusaklah pula seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim).
Hati merupakan sesuatu yang paling penting dan mulia pada diri manusia. Ibnu Qoyyim (2005:xi) mengemukakan bahwa hati adalah rajanya,semuanya melaksanakan apa yang diperintahkan hatinya, menerima petunjuk darinya, seluruh perbuatannya menjadi lurus karena niat dan maksud hatinya. Ia bertanggung jawab terhadap semuanya. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa sumber atau pusat pendidikan adalah hati, bukan otak. Otak sebagai salah satu anggota atau organ tubuh akan digerakkan oleh hati.
Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah syair yang berbunyi: apabila pengajar membuka hati pada masa kecil, maka akan sungguh ditemui yang tersiman didalamnya laksana ukirann dibatu (Ahmad Najieh, 1984: 117). Syair ini menyatakan betapa pentingnya seorang guru memiliki kemampuan membuka hati peserta didiknya. Fungsi seorang guru bukan “teching” (mengajar) tetapi “learning” (mendorong peserta didik untuk belajar).
Toto tasmara (2001: xvii) mengemukakan bahwa cinta adalah keinginan untuk memberi dan tidak memiliki pamrih untuk mengharapkan imbalan. Cinta bukan komoditas, tetapi kepedulian yang sangat kuat terhadap moral dan kemanusiaan. Dalam konteks ini maka peran suatu hati sangat penting dan sekaligus merupakan kunci keberhasilan dalam mendidik peserta didik.
Untuk mengaktualisasikan pendidikan dan pembelajaran dengan suara hati, maka guru dapat mendasarkan pada:

1.    Mendidik dengan mencari keridhaan Yang Maha Kuasa
Tugas mendidik memiliki nilai spiritual yang tinggi karena jika tugas mendidik tersebut diorientasika untuk mencari keridhoan Yang Maha Kuasa.dijelaskan dalam sebuah hadits: Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga (HR. Muslim).
2.    Mendidik merupakan tugas mulia
Tugas mendidik memiliki nilai spiritual yang tinggi, mendidik juga memiliki nilai universal yang dilakukan oleh siapapun. Oleh karena itu, tugas mendidik adalah tugas yang sangat mulia.

3.     Mendidik merupakan tugas utama guru
Mendidik merupakan tugas utama guru, maka guru hars bersungguh – sungguh dan tulus – ikhlas melakukan tugas ini sehingga ia dapat menikmati, menjiwai, dan merasa nyaman menjadi guru.

B.  Pendekatan dengan Hati
Mendidik dengan hati dapat dilakukan melalui tahap – tahap, yaitu: 1. Menumbuhkan motivasi internal; 2. Membangun sistem keyakinan; 3. Menumbuhkan dan memberikan inspirasi; 4. Melaksanakan pembelajaran.
1.    Menumbuhkan Motivasi Internal Inti mendidik dengan hati adalah membangun sebuah motivasi yang tumbuh dari dalam diri secara ikhlas. Motivasi internal dilandasi sebuah ke ikhlasan dalam bekerja. Ari Ginanjar (2008: 19) mengklasifikasikan keikhlasan kedalam tiga tingkatan, yaitu: 1. Pysical sincerity, yaitu keikhlasan yang timbul saat kita mendapatkan balasan materi seperti bonus, hadiah, dan lain – lain; 2. Emotional sincerity yaitu berupa imbalan pengakuan , kehhormatan, dan penghargaan; 3. Spiritual sincerity,  inila yang paling tinggi. Yaitu ketika merasa bahwa setiap pperbuatan baik pasti akan dibalas oleh Tuhan.
Kaya itu bukanlah kaya harta tetapi kaya jiwa ( HR. Bukhari dan muslim)

2.     Membanggun Sistem Keyakinnan (Believe System)
Keyakinan (sistem keyakinan) merupakan sesuatu yang terbaik yang tertanam dalam hati seseorang, oleh karena itu harus dibangunsistem keyakinan yang benar dan .kokoh. Sistem keyakinan dapat dikatakan sebagai sumber atau rohnya komiten. Sebagaimana dikemukakan oleh  Roter dan Foster(1986: 9).
Ada dua sistem keyakinan, yaitu:
1.    Sistem keyakinan yang membatasi dan membelenggu
2.    Sistem keyakinan yang mendukung
Sistem yang membatasi atau yang membelenggu biasanya diwarnai oleh perasaan pesimis dan prasangka buruk. Sebaliknya sistem keyakinan yang mendukung dapat diibaratkan sebagaimana yang tertuang dalam kata mutiara sebagai berikut: “Barang siapa yang bersungguh – sungguh pasti akan mendapatkan / berhasil.” Orang yang memiliki keyakinan mendukung tidak akan menyerah sebelum berhasil, dia berani mengambil resiko.
Bila anda berpikir akan kalah , Anda sudah pasti kalah (Arnold Palmer, pegolf dunia)

3.        Memberikan Inspirasi (menjadi guru inspirator)
Guru harus dapat mengubah cara mengajar dan merespon perkembangan dengan mengembangkan metode pembelajaran yang lebih aktif dan kreatif. Untuk menopang hal ini, maka guru harus kaya metode pembelajaran yang bervaariasai dan sekaligus guru mampu memilih dan menerapkan metode dengan tepat paa kodisi dan karakteristik yang sesuai.
Guru merupakan sumber inspirasi bagi murid –muridnya. Agar guru menjadi sumber inspirasi belajar bagi muridnya, maka guru harus memilki kometensi yang memadai baik dari segi ucapan, sikap, dan perilakunya. Sumber utama yang harus dimiliki guru adalah tterletak pada keteladanannya.
Sebagai tindak lanjut implementasi, langkah – langkah memunculkan inspirasi siswa dapat dilakukan dengan:
·  Mengenali dan memahami kondisi atau dunia siswa
·  Memberikan stimulus sesuai dengan potensinya
Sebagaimana dikatakan pada bab lain, bahwa keteladanan telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dengan sangat berhasil, karena Muhammad adalah “Guru manusi; guru bangsa, guru umat, atau guru paripurna, bahkan dapat dikatakan sebagai guru multidimensi yang tiada taranya”. M. Syafii Antonio (2007: 218) menyatakan bahwa salah satu faktor penting kejayaan pendidikan Rasullah SAW  adalah karena beliau menjadikan dirinya sebagai model dan teladan bagi umatnya. Selanjutnya, ia (2007: 12) mengemukakan bahwa Muhammad SAW disamping meninggalkan teladan yang biasa kita copy paste juga banyak meniggalkan banyak inspirasi dan kebijaksanaan tentang banyak hal.

4.        Implementasai pembelajaran atau pendidikan
Seorang guru yang ingin mengajar dan mendidik dengan berhasil harus mampu membawa pembelajaran dengan menghadirkan jiwanya. Bukan sekedar menstransfer ilmu yang bersifat kognitif, melainkan seorang pendidik juga dituntut untuk dapat menyertakan semangat, gairah, perhatian hingga kesabarannya selama proses penbelajaran sehingga dapat menumbuhkan suasana pembelajaran yang koduksif.

BAB VIII
PARADIGMA PEMBELAJARAN
Pada bab ini, bedah buku yang kami lakukan adalah mengenai paradigma pembelajaran. Paradigma dapat dikatakan sebagai seperangkat asumsi, konsep, nilai dan praktik yang diterapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas atau disiplin ilmu atau intelektualitas. Sedangkan pembelajaran adalah sebuah atau serangkaian proses yang berisikan pengalaman baru bagi para individu yang terlibat didalamnya.
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa paradigma pembelajaran adalah serangkaian konsep yang dipraktekkan dalam sebuah proses kegiatan belajar mengajar yang berisikan pengalaman baru agar proses kegiatan belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan tujuan pendidikan sebagai mana mestinya.
Di dalam buku ini, terdapat empat hal yang berhubungan dengan paradigma pembelajaran diantaranya : fokus pembelajaran, mengajar yang mendidik, mengajar adalah belajar, serta suasana pembelajaran.
A.      Fokus Pembelajaran
Fokus pembelajaran diarahkan pada upaya agar murid kelak mampu berinovasi mengembangkan apa yang telah didapatkan sewaktu mereka belajar. Sehingga mereka mampu mengimplementasikan (mewujudkan) pengalaman belajarnya pada kehidupan sehari-harinya serta mampu beradaptasi (menyesuaikan) dirinya dengan perkembangan zaman yang ada.
Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Dryden dan Vos (2000:17) yang mengemukakan bahwa belajar seharusnya memiliki tiga tujuan, yaitu:
1.        Mempelajari keterampilan dan pengetahuan tentang materi-materi pelajaran spesifik.
2.        Mengembangkan kemampuan konseptual umum, sehingga mampu belajar menerapkan konsep yang sama atau yang berkaitan dengan bidang-bidang lain yang berbeda.
3.        Mengembangkan kemampuan dan sikap pribadi yang secara mudah dapat digunakan dalam segala tindakan.
Sehingga sangat diperlukan sosok pendidik yang mampu mengemban amanah serta memiliki visi ke depan tentang pendidikan. Serta diperlukan pula guru yang berkarakter kuat dan mampu berfikir dan bertindak cerdas.
B.       Mengajar Yang Mendidik
Di dalam buku ini, diceritakan sebuah kisah tentang seorang guru yang dapat dikategorikan sebagai seorang guru yang memiliki wajah yang nampak menyeramkan, memakai pakaian yang lusuh dan sekilas tidak mampu menarik minat belajar siswa. Namun dengan keterampilannya beliau mampu membuat suasana belajar yang kondusif. Yang semula anak-anak takut dengannya setelah mendengar beliau bercerita, semua muridnya terpesona kepada setiap kata dan gerak lakunya yang memikat. Memberikan sebuah pengaruh yang lembut dan baik dalam dirinya. Beliau adalah sosok guru yang sesungguhnya yaitu orang yang tak hanya mentransfer sebuah pelajaran, tapi juga secara pribadi menjadi sahabat dan pembimbing spiritual bagi muridnya.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa seorang guru harus mempunyai jiwa atau sosok guru sejati yaitu sosok yang tidak hanya mampu mentransfer ilmu atau pengetahuannya tetapi juga harus mampu mengajarkan serta membimbing kepada anak didiknya agar mampu menjadi manusia yang memiliki daya guna tinggi bagi lingkungannya.

C.                Mengajar Adalah Belajar
Guru yang konsisten terhadap profesinya selalu belajar dan mengembangkan diri setiap waktu dan sepanjang hayat. Salah satu implementasinya adalah guru berpandangan bahwa mengajar adalah belajar. Guru yang berpandangan seperti itu maka ia akan selalu berkembang dan semakin menguasai bidang studi yang ia ajarkan. Jika guru tidak mau belajar maka ia akan menutupi ketidaktahuannya dengan cara membatasi atau bahkan marah kepada siswa. Namun, bila guru yang mau terus belajar, bila ia mengalami kesulitan dalam hal tertentu, misalnya menghadapi pertanyaan siswa yang dipandang sulit, guru secara terbuka akan mencarikan jawaban sebagai upaya pemecahannya walaupun disampaikannya pada kesempatan lain.

D.      Suasana Pembelajaran
Agar pembelajaran yang berkulitas dapat terwujud, maka diperlukan suasana pembelajaran yang memadai. Seorang guru harus mampu pula menciptakan suasana belajar yang nyaman agar proses kgiatan belajar mengajar menjadi kondusif. Setidak-tidaknya ada tiga indikatornya, antara lain:
1.   Menyenangkan atau membahagiakan
2.   Lingkungan kondusif (fisik atau non-fisik)
3.   Layanan dan penampilan prima.
Sudiarto (2005:34) mengemukakan bahwa suasana pembelajaran kondusif, maka kebijakan utama membantu pengembangan peserta didik adalah:
1.        Menyediakan guru yang profesional, yang seluruh waktunya untuk menjadi pendidik
2.        Menyediakan fasilitas sekolah yang memungkinkan peserta didik belajar dengan penuh kegembiraan dengan fasilitas olahraga dan ruang bermain yang memadai dn ruang kerja guru, dan
3.        Menyediakan media pembelajaran yang kaya, yang memungkinkan peserta didik dapat terus menerus belajar melalui membaca buku wajib, buku rujukan, dan buku bacaan (termasuk novel), serta kelengkapan laboratorium dan perpustakaan yang memungkinkan peserta didik belajar sampai tingkatan menikmati belajar.


BAB IX
PENDIDIK UNGGUL

Pendidik yang unggul akan membuat proses pembelajaran yang menjadi kondusif sehingga para siswa dapat dengan mudah memahami serta dapat menyerap pelajaran dengan baik. Untuk membangun guru yang unggul, setidak-tidaknya ada tigal hal, yaitu penampilan terbaik (The Best Appearance), sikap terbaik (The Best Attitude), dan prestasi terbaik (The Best Achievement).

A.      PENAMPILAN TERBAIK
Guru berpribadi dapat kita amati pada penampilan pertama. Jika guru mampu menampakkan penampilan positif maka murid akan memiliki kesan yang positif pula. Untuk membangun penampilan terbaik guru, setidak-tidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan terutama antara lain :

1.    Posisi dan Bahasa Tubuh
Posisi dan bahasa tubuh seseorang dapat menggambarkan sikap orang tersebut. Senada dengan seorang guru, mereka harus mampu menunjukkan posisi tubuh yang baik agar, para siswanya terasa nyaman ketika belajar dengannya. Namun, apabila seorang guru menjelaskan dengan posisi tubuh berdiri dengan dengan kedua tangan bertolak ke pinggang, itu dapat menyebabkan para siswa mengira bahwa guru tersebut memiliki sikap angkuh dan sombong sehingga para siswa tidak nyaman belajar dengannya.

2.    Gaya Bicara dan Ekspresi
Seorang guru laksana seorang artis di dalam sebuah kelas. Seluruh hal yang terdapat di dalam dirinya akan menjadi sorotan para siswanya. Karenanya seorang guru harus mampu menyembunyikan semua persoalan pribadinya di depan para siswanya agar mereka dapat menerima ilmu yang sedang disampaikan.

3.    Cara Berpakaian
Paling tidak ada tiga hal yang dapat digunakan sebagai indikator dalam berpakaian yaitu 1. Berdasarkan syariat (hukum agama), 2. Bersih, 3. Pantas.

B.            SIKAP TERBAIK
Manifestasi sikap yang terbaik juga ditunjuka pada sifat-sifat antara lain :
1.      Peduli
Dalam dunia pendidikan, kepedulian guru kepada muridnya mampu mengembangkan potensinya sangat diperlukan. Oleh karena itu, kepedulian guru lebih diarahkan untuk memfasilitasi agar peserta didiknya mau belajar sehingga ia menyadari akan hari kedepannya.

2.      Menebar Salam dan Kedamaian
Mendidik anak dengan membiasakan menebar salam dan kedamaian sangat penting. Penanaman dan pembiasaan ini berarti juga mendidik untuk saling mendoakan, memperhatikan, dan saling mengayomi antara satu dengan yang lain.

3.      Bijak dalam bicara, santun dalam bertindak, dan baik dalam bersikap
Kita harus membiasakan baik budi dan bahasanya dalam pergaulan, sopan dalam bicara, santun dalam berbuat, dan baik dalam bersikap, menghormati pendapat orang lain, serta mampu menjelaskan sesuatu dengan baik, jelas, benar dan mendasar. Sebagai perwujudan bijak dalam bicara adalah penguasaan bahasa, kemampuan berkomunikasi, dan etika berbicara atau berkomunikasi.

C.      PRESTASI TERBAIK
Bekerja harus berorientasi pada hasil maksimal bukan hasil rata-rata. Agar dapat mencapai hasil maksimal kita harus berani melakukan kegiatan di luar kebiasaan rata-rata yang dilakukan oleh orang lain. Dengan kata lain, melakukan kegiatan yang luar biasa (be extra ordinary). Kalau kita melakukan kegiatan yang luar biasa, maka otomatis kita bukan orang yang biasa.
Untuk mewujudkan prestasi terbaik, setidak-tidaknya ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu :
1.         Menjadi Manusia Terbaik
Faktor SDM yang berkualitas sangat penting dan menentukan apalagi dalam era globalisasi saat ini alam dunia pendidikan kerja keras dalam mendidik peserta didik hingga berhasil akan menghasilkan SDM yang berkualitas. Upaya sungguh – sungguh yang dilakukan seorang guru untuk mengembangkan potensi peserta didik dan juga diimbangi oleh kesungguhan peserta didik dengan belajar merupakan bentuk keterpaduan sinergis yang sangat penting. Kualitas SDM yang tinggi harus menjadi perhatian guru dalam mendidik peserta didik
2.      Berkompetensi Sehat
Berkompetensi sehat dilandasi jiwa fair play (bermain yang pair) dan sportif berkompetensi sehat diantara para guru tanpa harus saling menjelekan dan menjatuhkan guru lain karena khawatir kalah bersaing tetapi justru sebaliknya dapat saling berpacu dan dapat diarahkan untuk saling meninggkatkan peran masing-masing guru dalam rangka memberdayakan kinerja sekolah.
3.      Bersegera Bertindak
Orang yang bersegera berbuat biasanya mampu memanfaatkan peluang  dengan tepat. Biasanya ia bersikap disiplin dan tidak menunda-nunda pekerjaan. Perlu disadari bahwa kesempatan yang baik atau yang disebut kesempatan emas sering kali tidak terulang lagi. Oleh karenanya jika kesempatan tersebut tidaksegera dimanfaatkan dengan baik maka ia akan kehilangan momentum yang sangat berharga.


BAB X
BERFIKIR DAN BERTINDAK CERDAS
Menurut HR. Abu Daud “ orang yang cerdik adalah orang yang dapat menaklukan hawa nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah mati, dan orang uang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan – angan muluk kepada Allah”.
Dalam pembukaan undang – undang terdapat kalimat “...mencerdaskan kehidupan bangsa...” lalu diperjelas dalam pasal 31 ayat (3) yang menyatakan bahwa meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang – undang.
Cerdas adalah pintar dan cerdik, cepat tanggap dalam menghadapi masalah, cepat mengerti jika mendengar keterangan, tajam fikiran. Sedangkan cerdik adalah punya akal pintar , mampu atau pandai memecahkan persoalan, cepat memahami situasi yang sulit dan menemukan pemecahannya banyak akal ( Kamisa 1997 : 112)
Cerdas dalam arti luas bukan hanya kecerdasan tunggal tetapi kecerdasan yang bersifat ganda artinya mencakupi kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual.
Cerdas dapat juga merujuk pada kata “fathonah” .Toto Tasmara ( 2001: 212 – 213) mengemukakan bahwa seseorang yang memiliki sifat fathonah , tidak saja menguasai bidangnya , tetapi memiliki dimensi rohani yang kuat . keputusan – keputusannya menunjukan warna pemikiran seorang profesional yang didasarkan pada sikap moral atau akhlak yang luhur. Seorang yang fathonah itu tidak saja cerdas tapi memiliki kebojaksanaan atau kearifan dalam berfikir atau bertindak.
A.      Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosi dan Kecerdasan Spiritual
a.      Kecerdasan Intelektual
Menurut kamus psikologi, intelligence artinya kemampuan berurusan dengan abstraksi – abstraksi, kemampuan mempelajaru sesuatu , kemampuan menangani situasi – situasi baru. Adapun Intelligence Quotient (IQ) adalah cara klasik merupakan hasil bagi umur mental (mental age) dengan umur kronologis (chronological age) yang kemudian dikalikan dengan angka 100 ( Dali Gulo, 1982 : 125).
Kecerdasan intelektual ternyata bukan satu –satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang dalam hidupnya.  Kecerdasan Intelektual memiliki peran dalam mengidentfikasi masalah, menganalisis dan mensintesis objek, memberikan informasi tentang baik – buruk dan untung rugi  dan sebagainya.
b.      Kecerdasan Emosi
Kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang mengendalikan emosinya pada saat menghadapi situasi yang menyenangkan maupun menyakitkan.
Salovey dan Goleman ( 1997 : 58 -59 ) membagi kecerdasan emosi dalam lima wilayah utama atu bidang kompetensi, yaitu :
1.         Mengenali emosi diri
2.         Mengelola emosi
3.         Memotivasi diri sendiri
4.         Mengenali emosi orang lain
5.         Membina hubungan
Emosi positifdan emosi negatif memiliki peran dalam kehidupan , persoalannya adalah bagaimana mengolah emosi menjadi bermakna dalam kehidupan. Emosi positif dapat digambarkan seperti kasih sayang , gembira, bahagia, berani, berjuang, gigih, sukses dan lain – lain. Sedangkan emosi negatif seperti sakit hati, benci, sedih, gagal, kecewa, takut, was was , putus asa dan lain – lain. Oleh karena itu manajemen kecerdasan emosiyang baik dapat memperkuat dan memperkokoh kecerdasan intelektual.
c.       Kecerdasan Spiritual
Menurut kamus psikologi kata “spirit” dapat diartikan kekuatan, tanaga, vitalitas, energi, moral atau motivasi, sedangkan “spritual” artinya berkaitan dengan ruh , semangat atau jiwa, religius yang berkaitan dengan agama keimanan, kesalehan, menyangkut nilai – nilai transendetal” ( Chalplin, 2006 :480).
Zohar dan marshall ( 2007: 4) mengemukakan bahwa kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dengan nilai , yaitu kecedasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kitadalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.

B.       Kecerdasan Emosi – Spiritual ( ESQ )
Emotional-Spiritual Quotiont (ESQ) atau kecerdasan Emosi- spiritual pada dasarnya segala sesuatu (ucapan, sikap , pemikiran, perilaku dan lain – lain ) yang merupakan perwujudan atau implementasi keterpaduan antara hablu minallah dan hablu minnannas dengan kata lain keterpaduan hubungan vertikal dan horisontal.

BAB XI
PENUTUP
Guru luar biasa adalah guru yang mampu memberikan dan menumbuhkan inspirasi agar peserta didik dapat berkembang potensinya secara optimal.
Berdasarkan uraian dan kajian tersebut, dapat disarikan bahwa tugas dan fungsi guru dalam memberdayakan potensi peserta didik sangat penting artinya. Oleh karena itu diperlukan profil guru yang mampu memberikan dan menumbihkan inspirasi agar peserta didik mengembangkan potensinya secara optimal. Maka diperlukan guru yang berkarakter kuat dan cerdas.
A.      Tujuan Pembelajaran dan Pendidikan
Tujuan mengajar dan mendidik pada hakikatnya adalah :
1.      Meletakan landasan karakter yang kuat melalui internalisasi nilai dalam pendidikan.
2.      Menumbuhkan / menambahkan kecerdasan emosi dan spiritual yang mewarnai aktivitas hidupnya.
3.      Menumbuhkan kemauan berfikir kritis melalui pelaksanaan tugas – tugas pembelajaran.
4.      Menumbuhkan kebiasaan dan kemampuan untuk berpartisipasi aktif secara teratur dalam aktifitas hidupnya dan memahami manfaat dariketerlibatannya.
5.      Menumbuhkan kebiasaan untuk memanfaatkan dan mengisi waktu luang dengan aktivitas belajar.
6.      Menumbuhkan pola hidup sehat dan pemeliharaan kebgaran jasmani.

B.       Membangun Budaya Kerja
Komponen – Komponen yang dijadikan acuan didalam membangun budaya kerja adalah :
1.      Komitmen
2.      Kompeten
3.      Kerja keras
4.      Konsisten
5.      Kesederhanaan
6.      Kedekatan
7.      Pelayanan maksimal
8.      Cerdas

C.      Profil Kinerja yang diharapkan
Kinerja pendidik yang diharapkan dapat berpegang pada prinsip – prinsip sebagai berikut :
1.    Senantiasa memegang komitmen dengan sunggguh – sungguh dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan pendidikan.
2.    Senantiasa menjunjung tinggi martabat profesi guru
3.    Menantiasa melakukan yang terbaik dalam mengembangkan potensi  peserta didik
4.    Senantiasa bekerja keras dengan penuh pengabdian .

Daftar Pustaka
Hidayatullah, M.Furqon (2010). Guru Sejati : Membangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas. (Kualalumpur: Yuma Pustaka).