GURU SEJATI
(
Membangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas)
Bedah
Buku Mata Kuliah Psikologi

Disusun
Oleh:
Kelompok
I (Satu)
NAMA :
|
NPM :
|
Nila Sari
|
1184202046
|
Nurhandini
|
1184202050
|
Husnul Khotimah
|
1184202077
|
Aniatul Karomah
|
1184202180
|
Liseu Taqillah
|
1184202183
|
Nur Azizah
|
1184202120
|
Kelas
4A2
Prodi.
Pendidikan Matematika
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
Jl.
Perintis Kemerdekaan 1/33 Cikokol Kota Tangerang
PENDAHULUAN
Guru
yang biasa, berbicara
Guru
yang bagus, menerangkan
Guru
yang hebat, mendemonstrasikan
Guru
yang agung, member inspirasi
(William Athur
Ward, Jurnalis)
Keluaran pendidikan seharusnya dapat
menghasilkan orang “pintar” tetapi juga orang “baik” dalam arti luas.
Pendidikan tidak hanya menghasilkan orang “pintar” tetapi “tidak baik” ,
sebaliknya juga pendidikan tidak hanya menghasilkan orang “baik” tetapi “tidak
pintar”.
Orang yang “pintar” saja tetapi “tidak
baik” akan menghasilkan orang yang “berbahaya” karena dengan kepandaiannya ia
bisa menjadikan sesuatu menyebabkan kerusakan dan kehancuran.
Setidak-tidaknya pendidikan masih lebih
bagus menghasilkan orang “baik” walaupun tidak “pintar”. Tipe ini paling tidak
akan memberikan suasana kondusif, karena ia memiliki akhlak yang baik.
Thomas Stanley dalam
Stain and Book (2003: 35) mengemukakan lima factor teratas yang dianggap paling
berperan dalam keberhasilan, yaitu :
1. Jujur
kepada semua orang
2. Menerapkan
disiplin
3. Bergaul
baik dengan orang lain
4. Memiliki
suami atau istri yang mendukung dan
5. Bekerja
lebih giat daripada kebanyakan orang
Gambaran diatas menunjukan bahwa untuk
memperoleh kesempatan kerja diperlukan kompetensi yang komfleks dan
komprehensif. Jika dikaitkan dengan kecerdasan, maka bukan hanya kecerdasan
intelektual yang diperlukan tetapi juga kecerdasan yang lain.
Kaitannya dengan bidang pendidikan,
terutama pendidik atau guru yang tugasnya menyiapkan calon sumber daya manusia
(SDM) di masa depan maka ia hatus memiliki kualifikasi dan kompetensi yang
memadai.
Tantangan pendidik dewasa ini untuk
menghasilkan SDM yang berkualitas dan tangguh semakin berat. Pendidikan tidak
cukup hanya berhenti pada memberikan pengetahuan yang paling mutakhir, namun
juga harus mampu membentuk dan membangun sistem keyakinan dan karakter
kuat peserta didik sehingga mampu
mengembangkan potensi diri dan menemukan tujuan hidupnya.
Pendidikan disekolah tidak lagi cukup
hanya dengan mengajak peserta didik membaca, menulis, dan berhitung, kemudian
lulus ujian, dan nantinya mendapatkan pekerjaan yang baik. Sekolah harus mampu
mendidik peserta didik untuk mampu memutuskan apa yang benar dan salah. Sekolah
juga perlu membantu orang tua untuk menemukan tujuan hidup setiap peserta
didik.
Guru harus memiliki komitmen yang kuat
dalam melaksanakan pendidikan secara holistik yang berpusat pada potensi dan
kebutuhan peserta didik. Pendidik juga harus mampu menyiapkan peserta didik
untuk bisa menangkap peluang dan kemajuan dunia dengan perkembangan ilmu dan
teknologi. Akan tetapi, disisi lain, pendidikan juga harus mampu mebukakan mata
hati peserta didik untuk mampu melihat masalah –masalah bangsa dan dunia,
seperti kemisikna, kelaparan, kesenjangan, ketidakadilan, dan persoalan
lingkungan hidup.
Peserta didik harus diarahkan untuk
mampu mengembangkan dirinya, tetapi ia juga harus diajarkan untuk memiliki
beban atau panggilan hidup untuk menjadi bagian dari pemecahan
persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa dan dunia.
Agar guru mampu menyelenggarakan
pendidikan dan pembelajaran, maka diperlukan sosok guru yang berkarakter kuat
dan cerdas.
Sosok guru yang
berkarakter kuat dan cerdas diharapkan mampu mengembangkan amanah dalam
mendidik peserta didiknya. Untuk menjadi guru atau tenaga pendidik yang handal
harus memiliki seperangkat kompetensi. Kompetensi utama yang harus melekat pada
tenaga pendidik adalah nilai-nilai keamanahan, keteladanan, dan mampu melakukan
pendekatan pedagogis serta mampu berfikir dan bertindak cerdas.
LAGU,
TEMBANG, DAN HIMNE GURU
Pada bab ini dinyatakan bahwa menjadi
seorang guru merupakan suatu pekerjaan yang mulia bahkan sangat mulia
sampai-sampai yang demikian itu dinyatakan dalam sebuah lagu, syair, dan lain
sebagainya. Menjadi guru merupakan profesi yang mulia, seperti halnya makna dalam
beberapa lagu, diantaranya:
A.
Himne
Guru
(L/S = Sartono)
Terpujilah
wahai engkau ibu bapak guru
Namamu
akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua
baktimu akan kuukir di dalam hatiku
S’bagai
prasasti t’rima kasihku ‘tuk pengebdianmu
Engkau
sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau
laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau
patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa
Lagu tersebut menjelaskan bahwa seorang
peserta didik yang sangat mengenang jasa seorang guru yang telah mendidiknya,
dan juga mengandung makna bahwa menjadi guru merupakan profesi yang mulia,
penuh pengabdian, dan memiliki peran yang sangat bernilai dalam rangka
menyiapkan SDM bangsa.
B.
Pak
Guru
(Murry, Koes, Plus)
Abot sanggane tugase bapak guru
Saben dinane mimpin putra putrine
Pancen pak guru kudu sabar antine
Bungah lan susah wis dadi
tunggungane
Ngelingano mbesuk yen kowe mukti
Pituture ojo nganti dilaleke
Esuk lan sore penjaluke pak guru
Supoyo
mulyo kabeh putra putrine
Lagu tersebut menjelaskan betapa berat
tanggung jawabnya tugas pak guru, setiap hari mendidik putra – putrinya, suka
dan duka hal biasa yang dialaminya dan sudah menjadi resikonya, dan satu hal
yang harus dipegang oleh peserta didik adalah jika kelak di kemudian hari menjadi “orang”, janganlah lupakan pesan dan
nasihat guru. Artinya ia tetap pada jalan yang benar, ia tetap memiliki prinsip
dan selalu istiqomah sehingga ia tetap hidup mulia dan bahagia.
C.
Semua
Sama
(Yok Koeswoyo Plus)
Salah satu syairnya berbunyi :
Oh
guru sungguh mulia pengabdianmu
Oh
guru penuntut ilmu
Syair singkat ini menunjukkan betapa
mulia kedudukan seorang guru. Di samping memiliki pengabdian yang tinggi ia
juga sebagai pengemban dan penuntut ilmu.
D.
Oemar
Bakri
(Iwan Fals)
Tas
hitam dari kulit buaya
Selamat
pagi berkata bapak Oemar Bakri
Ini
hari aku rasa kopi nikmat sekali
Tas
hitam dari Kulit Buaya
Mari
kita pergi memberi pelajaran ilmu pasti
Itu
murid bengalmu mungkin sudah menunggu
Laju
sepeda kumbang di jalan berlubang
Selalu
begitu dari dulu waktu jaman Jepang
Terkejut
dia waktu mau masuk pintu gerbang
Banyak
polisi bawa senjata berwajah garang
Bapak
Oemar Bakri kaget ada apa gerangan
Berkelahi
pak, jawab murid seperti jagoan
Bapak
Oemar Bakri tukut bukan kepalang
Itu
sepeda butut dikebut lalu cabut kalang kabut cepat pulang
Buset
….. standing dan terbang
Oemar
Bakri, Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar
Bakri, Oemar Bakri
40
tahun mengabdi jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar
Bakri, Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar
Bakri professor, dokter, insinyur pun jadi
Tapi
mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikeburi
Itu
sepeda butut dikebut lalu cabut kalang kabut Bakri kentut bawa pulang
Oemar
Bakri, Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar
Bakri, Oemar Bakri
40
tahun mengabdi jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar
Bakri, Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar
Bakri bikin otak orang seperti Habibi
Tapi
mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikeburi
Lagu Oemar Bakri ini menggambarkan
betapa besar perjuangan, pengabdian, kesederhanaan seorang guru, dan guru
tersebut mampu mendidik murid – muridnya hingga jadi. Namun, di sisi lain,
menggambarkan nasib seorang guru yang belum mendapat perhatian yang wajar dan
layak sehingga penampilan fisik dan lahiriahnya sangat kekurangan dan tebatas.
PENDIDIKAN KARAKTER
A.
Karakter
Karakter merupakan
suatu sikap dan sifat yang melekat pada setiap individu, dimana pada masing –
masing individu itu berbeda. Secara harfiah karakter artinya “kualitas mental
atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi: (Hornby dan Parnwell, 1972:
49). Menurut kamus lengkap Bahasa Indonesia, karakter adalah sifat – sifat
kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain,
tabiat, watak.
Maka dapat disimpulkan
bahwa pengertian karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atu moral,
akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang
membedakan dengan individu lain. Dengan demikian, dapat dikemukakan juga bahwa
karakter pendidik adalah kualitas mental atau kekuatan moral, akhlak atau budi
pekerti pendidik yang merupakan kepribadian khusus yang harus melekat pada
pendidik.
Seorang pendidik
dikatakan berkarakter jika ia memiliki nilai dan keyakinan yang dilandasi
hakikat dan tujuan pendidikan serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam
menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Dengan demikian pendidik yang
berkarakter, berarti ia memiliki kepribadian yang ditinjau dari titik tolak
etis atau moral, seperti sifat kejujuran, amanah, keteladanan, ataupun sifat –
sifat lain yang harus melekat pada diri pendidik.
Aa Gym (2006 :
66) mengemukakan bahwa karakter itu terdiri dari empat hal.
·
Pertama,
karakter lemah; misalnya penakut, tidak berani mengambil resiko, pemalas, cepat
kalah, belum apa – apa sudah menyerah, dan sebagainya.
·
Kedua,
karakter kuat; contohnya tangguh, ulet, mempunyai daya juang yang tinggi, atau
pantang menyerah.
·
Ketiga,
karakter jelek; misalnya licik, egois, serakah, sombong, pamer, dan sebagainya.
·
Keempat,
karakter baik; seperti jujur, terpercaya, rendah hati, dan sebagainya.
Nilai – nilai utama
yang menjadi pilar pendidik dalam membangun karakter kuat adalah amanah dan
keteladanan. Beberapa faktor penyebab rendahnya pendidikan karakter adalah:
1.
Sistem
pendidikan yang kurang menekankan pembentukan karakter tetapi lebih menekankan
pengembangan intelektual, seperti Ujian Nasional (UN)
2.
Kondisi
sosial yang kurang mendukung pembangunan karakter yang baik.
B.
Pentingnya Pendidikan Karakter
UU Nomor 14 Tahun 2005
tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 menyatakan bahwa
pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Ellen G. White dalam
Sarumpaet (2001 : 12) mengemukakan bahwa pembangunan karakter adalah usaha
paling penting yang pernah diberikan kepada manusia. Pembangunan karakter
adalah tujuan luar biasa dari system pendidikan yang benar . jika bukan mendidik
dan mengasuh anak – anak untuk perkembangan tabiat yang luhur, buat apakan
sistem pendidikan itu? Baik dalam pendidikan rumah tangga maupun pendidikan
dalam sekolah, orang tua dan guru tetap sadar bahwa pembangunan tabiar yang
agung adalah tugas mereka.
Slamet Imam Santoso
(1981: 33) mengemukakan bahwa tujuan tiap pendidikan yang murni adalah menyusun
harga diri yang kukuh-kuat dalam jiwa pelajar, supaya mereka kelak dapat
bertahan dalam masyarakat. Di bagian yang lain Slamet Imam Santoso (1979: iii)
juga mengemukakan bahwa pendidikan bertugas mengembangkan potensi individu
semaksimal mungkin dalam batas – batas kemampuannya, sehingga terbentuk manusia
yang pandai, terampil, jujur, tahu kemampuan dan batas kemampuannya, serta
mempunyai kehormatan diri. Dengan demikian, pembinaan watak merupakan tugas
utama pendidik.
Ada
dua pendapat tentang pembentukan atau pembangunan karakter, yaitu :
·
Di
satu sisi, berpendapat bahwa karakter merupakan sifat bawaan dari lahir yang
tidak dapat atau sulit diubah atau dididikan.
·
Di
sisi lain, berpendapat bahwa karakter dapat diubah atau dididik melalui
pendidikan.
Platform
pendidikan karakter bangsa Indonesia telah dipelopori oleh tokoh pendidikan
kita Ki Hajar Dewantoro yang tertuang dalam tiga kalimat (walupun konsep ini
belum sepenuhnya dapat diterapkan oleh bangsa kita), yang berbunyi :
Ing ngarsa sung tuladha
Ing madya mbangun karsa
Tut wuri handayani
Ing ngarsa sung tuladha
(Di depan memberi teladan). Maksudnya ketika berada di depan memberikan
teladan, contoh, dan panutan, jadi, seorang guru haru memberikan teladan,
contoh, dan panutan – panutan yang baik kepada para peserta didik, sehingga
bias dijadikan telada bagi peserta didik.
Ing madya mbangun karsa
(Di tengah membangun Kehendak). Maksudnya ketika seorang guru berada di tengah
peserta didiknya, hendaknya bisa menjadi penyatu tujuan dan cita – cita peserta
didiknya.
Tut wuri handayani (Di
belakang memberikan dorongan). Maksudnya ketika seorang guru berada di belakang
peserta didiknya, ia memberikan dorongan dan motivasi bagi peserta didiknya,
sehingga peserta didik memiliki semangat dan daya juang dalam mengembangkan
potensi yang ada pada dirinya.
Guru yang memiliki
makna “didugu dan ditiru” (dipercaya dan dicontoh) secara tidak langsung juga
memberikan pendidikan karakter kepada peserta didiknya. Oleh karena itu, profil
dan penampilan seorang guru harus memiliki sifat – sifat yang membawa peserta
didiknya ke arah pembentukan karakter yang kuat. Dalam konteks ini guru
berperan sebagai teladan peserta didiknya.
BERSYUKUR
MENJADI PENDIDIK ( GURU )
Bersyukur merupakan faktor penting dalam
kehidupan yang berhasil. Guru yang bersyukur selalu fokus apa yang dimiliki,
memilki apa yang ada bukan berarti menyesali dan maratapi apa yang tiada ada
atau hilang deari genggaman kita. Kita tidak selalu dapat memperoleh apa yang
kita inginkan, namun sesungguhnya kita juga dapat menikmati apa yang kita
miliki.
Perwujudan bersyukur terhapat sesuatu
kenikmatan yang telah diterima bukan sekeder suatu ucapan atau pernyataan
tetapi juga berkaitan dengan tindakan. Maka dari itu jika profesi pendidik
dipandang sebagai nikmat, maka sebagai bentuk perwujudan rasa bersyukur dapat
dijabarkan sebagai berikut :
1.
Menerima
secara positif propesi guru.
Seorang guru yang jarang msuk
mengajar atau tidak sungguh-sungguh bekerja berarti ia termasuk tidak
mensyukuri nimat sebagai guru. Dapat dikatakan ia mau menerima gaji tetapi
tidak mau melaksanakan kewajibannya.
2.
Tidak
dzalim terhadap profesi guru
Dzalim yang dimaksudkan disini
adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Misalnya seorang guru
seharusnya masuk untuk mengajar, tetapi tidak masuk mengajar,. Atau seharusnya
masuk jam 07.00 tetapi datang terlambat jam 07.30 atau seharusnya pada jam-jam tertentu mengajar dikelas tetapi
melakukan aktifitas lainyang tidak ada kaitannya dengan tugasnya.
3.
Mengembangkan
profesi guru.
Jika seorang guru sudah merasa aman
menjadi guru, apalagi sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).ia merasa aman
tidak akan dipecat jika tidak melanggar hal-hal yang prinsip, apalagi ia juga
mendapatkan pensiun dihari tua nanti. Kemudian bekerja dengan prinsip begini
saja sudah bisa atau sudah cukup tanpa mengembangkan dan bekerja
sungguh-sungguh. Dan bahkan seorang guru banyak mengikuti seminar hanya untuk
mencari sertifikat untu kenaikan pangkat dan kepentingan lain.
Ilmu adalah sebagai
penerang yang mampu mengubah jalan keburukan, kebodohan yan melahirkan kebijaksanaan
dalam berbagai masalah-masalah kehidupan. Mencari ilmu memiliki kedudukan yang
istimewa bila diabndingkan dengan kegiatan lain , sebagai berikut:
1.
Tanpa syarat
2.
Tanpa batas
waktu
3.
Dialksanakan
sepanjang hayat
4.
Satu-satunya
kegiatatan yang diperboehkan serakah
5.
Sifatnya wajib
BAB
V
MENDIDIK
SEBAGAI AMANAH
Dalam dunia pendidikan amanah terutama
terjadi antara masyarakat sebagai pemberi amanah dan lembaga pendidikan sebagai
penerima amanah. Masyarakat menitipkan atau menyerahkan anaknya untuk mengikuti
proses studi kepada instuisi pendidikan yang mengelola amanah tersebut untuk
mencapai tujuan tertentu, orang tua menyerahkan anaknya kepada guru agar
dididik dan dikembangkan potensinya. Sifat amanah tidak terlepas dari sifat
jujur. Dapat dikatakan bahwa kejujuran merupakan pilar utama dalam mengemban
amanah.
Upaya
dalam menegakan amanah diperlukan adanya :
1.
Komitmen
Komitmen merupakan ucapan yang
mengikat seseorang untuk melakukan sesuatu ingkar atau janji. Jika definisi
tersebut dapat diajadikan acuan, maka komitmen pendidik dapat didefniskan
sebagai salah satu tekad yang mengikat seorang pendidik untuk melaksanakan
tugas dan tnggung jawabnya sebagai pendidik.
Amanah
dan memenuhi janji merupakan dua hal yang tak dapt dipisahkan. Jika salah
satunya tidak ada atau tidak dipenuhi maka tidak akan ada artinya. Orang yang
amanah berarti ia juga jujur bila ia dapat menepati janjinya. Orang yang
memenuhi janji berarti ia memiliki
komitmen untuk memegang amanah. Amanah dan memenuhi janji harus dilakukanoleh
seorang guru. Pendidik yang memiliki komitmen tinggi dalam melaksankan
tugasnya. Tanpa komitmen yang kuat suatu tujuan tidak akan tercapai secara
optimal, bahkan dapat menuai suatu kegagalan, orang ynag mengambaikan amanah
akan berakibat bukan hanya kegagalan tetapi mengakibatkan kehancuran.
Berdasarkan pengamatan, pengalaman, dan kajian penulis lakukan, ada lima
halyang berkaitan dengan komitmen yang dapat dilakukan agar sesorang pendidik
dapat melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Omitmen yang dimaksud adalah :
1. Memiliki
visi kedepan dan tekad dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik.
2. Memiliki
karakter budi pekerti dan ahlak mulia
3. Mampu
mengelola dan mengontrol diri dalam mendidik peserta didik.
4. Mampu
melakukan yang terbaik dalam mengembangkan potensi peserta didik
5. Bekerja
keras dan penuh pengabdian.
2.
Kompeten
Kompeten merupakan kemampuan yang
harus dipupuk dan dikembnagkan melalui berbagai proses pembelajaran,
pengalaman, menekuni pekerjaan dengan sungguh-sungguh, dan bahkan berani
mengmbil resiko untuk menghadapi tantangan. Guru yang kompeten adalah sosok yang
harus merasa kekurangan dalam menimba ilmu dan juga menginginkan agar peserta
didiknya memiliki kompetensi bahkan mengiginkan kompetensi peserta didiknya
melebihi gurunya. Guru yang kompeten dapat digambarkan sebagai kemampuan
seorang guru dalam menyelenggarakan pembelajaran dan kemmpuan memecahkan
berbgai masalah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Dan guru yang kompeten
juga akan memberikan kepercayaan diri kepada muridnya. Murid kan melihat
gurunya sebagai sosok yang pantas dipercaya, tidak hanya dari kata-katadan
perbuatannnya tetap juga kompetensi atau keahlianya.
Kompetensi
sebagai agen pada ajang jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan
usia dini meliputi :
1. Kompetensi
Pedagogik
Kompetensi pedagogik adalah
kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahanan, peserta
didik, perancangan, dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan
pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimilikinya.
2. Kompetensi
Kepribadian
Kompetensi kepribadian adlah
kmampuan kepribadian yang mantab, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa serta
menjdi teladan bagi peserta didik dan ahlak mulia.
3. Kompetensi
Sosial
Komampuan sosial dalah kemampuan
pendiik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi da bergaul secara
efektif dangan peserta didik, sesama peserta didik, sesama pendidik, tenaga
kependidikan, orang tua atau wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
4. Kompetensi
Profesional.
Kompetensi profesional adalah
kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang
memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang
ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidik.
3.
Kerja
keras
Kerja keras dapat didefinisikan
sebagai kemmpuan mencurahkan ataumengarahkan seluruh usaha dan kesungguhan,
potensi yang dimiliki sampai akhir masa suatu urusan hingga tujuan
tercapai. Kerja keras berkaitan erat
dengan keberhasilan dari suatu usaha. Orang yang berkerja keras akan selalu
memperbaiki suatu keadaan baik yang menyangkut dirinya maupun lingkungannya. ‘’
buatlah usaha anda berhasil dengan sat-satunya cara kerja keras’’ (Mark Cuban,
Owner Dallas Maverick)
4.
Konsisten
Guru dalam mengemban tugasnya harus
memiliki konsistensi, berarti ia slalu istiqomah, ajeg, fokus dan sabar serta
ulet. Guru yang selalu melkaukan perbaikan secara terus menerus juga termasuk
guru yang konsisten.
a. Istiqomah
b. Ajeg
Guru harus secara ajeg melakukan
sesuatu yang bermanfaat bagi pekerjaannya. Ajeng yang dimaksud adalah ia secara
terus menerus, berkesinambungan, tekun, rutin, dan secara teratur melakukan
sesuatu dalam waktu relatif lama. Seorang guru selalu dan ajeg belajar maka ia
akan selalu berkembang ilmunya.
c. Fokus
Guru harus fokus dalam bidang studi
tertentu yang menjadi keahlianya sehingga ia memiliki konsentrasi kajian yang
mendalam.
d. Sabar
serta Ulet
Guru yang konsisten, ia selalu
sabar dan ulet, ia juga harus mau dan mampu melakukan sesuatu dalam waktu
relatif dalam walupun banyak cobaan, rintangan, ataupun tantangan.
MENDIDIK
DENGAN KETELADANAN
Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasalullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah (Al –
Ahzab/33:21).
Keteladanan hendaknya diartikan dalam
arti luas, yaitu berbagai ucapan, sikap, dan perilaku yang melekat pada
pendidik. Jika hal ini telah dilakukan dan di biasakan dengan baik sejak awal,
maka akan memiliki arti penting dalam membentuk karakter sebagai seorang guru
yang mendidik.
Keteladanan telah dilakukan oleh Nabi
Muhammad SAW dengan sangat berhasil, karena Muhammad adalah “Guru manusia: guru
bangsa, guru ummat, atau guru paripurna, bahkan dapat dikatakan sebagai guru
multidimensi yang tiada taranya”. M. Syafii Antoni (2007: 218) menyatakan bahwa
salah satu faktor penting kejayaan pendidikan Rasullah SAW adalah karena beliau
menjadikan dirinya sebagai model dan teladan bagi umatnya. Keteladanan yang
dilakukan rasullah , mengandung dua unsur, yaitu meodik-implementatif. Dengan
dua unsur tersebut berdampak berdampak daya serap dan hasil pendidikan
(termasuk pembelajaran yang tinggi).
Keteladan yang bersifat
metodik-implementatif akan tergambar bagaimana cara – cara menerapkan. Dengan
diketahui dan dihamainya aspek metodik tersebut, maka akan memudahkan untuk diterapkan
sehingga apa yang telah diteladankan akan menjadi menarik dan menyenangka. Maka
seharusnya sebagai guru menerapkan “Mata pelajaran hidup”: “Geografi hidup,
fisika hidup dan sebagainya”. Artinya kedalaman dan keluasan ilmu (bidang
studi) guru batul – betul terandalkan.
A.
Faktor
Keteladanan
Keteladanan yang bersifat
Multidimensi, yakni keteladanan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk
kebiasaan-kebiasaan yang baik merupakan contoh bentuk keteladanan. Keteladanan
dalan pendidikan merupakan pendekatan tau metode yang sangat berpengaruh dan
terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk dan mengembangkan
potensi peserta didik.
Ada
tiga unsur agar seseorang dapat diteladani dan menjadi teladan, yaitu:
1.
Kesiapan
untuk Dinilai dan Dievaluasi
Kesiapan untuk dinilai berarti
adanya kesiapan menjadi cermin bagi dirinya maupun orang lain, yang berdampak
pada kehidupan sosial di masyarakat, karena ucapan, sikap, dan perilaku menjadi
sorotan dan teladan.
2.
Memiliki
Kompetensi Minimal
Kompetensi yang dimaksud adalah
kondisi minimal ucapan, sikap, dan perilaku yang harus dimiliki seseorang
sehingga dapat dijadikan cermin bagi dirinya maupun orang lain.
3.
Memiliki
Integritas
Integritas alah adanya kesamaan
antara ucapan dan tindakan atau satunya kata dan perbuatan atau terletk pada
kualitas istiqomahnya.
B.
Pendidik
sebagai Cermin
Orang mu’min adalah cermin bagi
orang mu’min (yang lain). Jika ia melihat cela padanya maka diperbaikinya (HR.
Bukhari).
Cermin
sevara filosofi memiliki makna sebagai berikut:
1.
Tempat
yang Tepat untuk Instrospeksi
Sebagai
pendidik,kita harus siap menjadi tempat wawas diri, koreksi diri, atau
introspeksi. Untuk itu kita menjadi curahan.
2.
Mencermin
dan menampakkan apa adan Menampakkan Apa Adanya
Cermin memiliki
karakteristik bersedia menerima dan memperlihatkan apa adanya.
3.
Menerima
Kapan pun dan dalam Keadaan Apa pun
Sebagai pendidik harus memiliki sifat –
sifat seperti pengabdian, setia, sabar, dan lain – lain.
4.
Tidak
Pilih Kasih / tidak Deskriminatif
Sebagai pendidik
harus memiliki jiwa mendidik kepada siapapun tanpa pandang bulu, semua anak
(manusia) apa pun kondisinya harus dididik, tanpa kecuali. Bahkan kita tidak di
benarkan memisah – misahkan atau memilih – milih kondisi siswa (exclusive),
tetapi kita dalam didik harus bersifat inklusif (inclusive).
5.
Pandai
Menyimpan rahasia
Sebagai pendidik
yng pandai menyimpan rahasia ia juga memiliki sifat – sifat, seperti ukhwah
atau persaudaraan, peduli, kebersamaan, tidak menjatuhkan, tidak mempermalukan
orang lain, mengorangkan, dan lain – lain.
Memberi
teladan itu mudah tetapi menjadi teladan itu tidak mudah
|
C.
Mendidik
Dengan Keteladanan
1.
Kesederhanaan
Kami
tak berkedip menatap sang juru kisah yang ulung ini.pria ini buruk rupa dan
buruk pula setiap apa yang disandangnya, tapi pemikirannya jernih dan kata –
katanya bercahaya. Jika ia mengucapkan sesuatu kami pun terpaku menyimaknya dan
tak sadar menunggu untaian kata berikutnya.
2.
Kedekatan
Seperti
yang tercermin pada diri Nabi Muhammad SAW yaitu pada saat menjelang akhir
hayat, beliau mendapat kesempatan menghadap Allah SWT pun memperlihatkan rasa
perhatian dan kecintaan yang luar biasa. Bahkan Nabi memperjuangkan umatnya
agar apa yang telah dididiknya secara konsisten diperjuangkan dengan sungguh –
sungguh.
3.
Suasana
Silaturahmi
Silaturahmi merupakan
gabungan dua kata,yaitu”shilah”dan “ar rahm’’. “shilah” artinya hubungan atau
menghubungkan, sedangkan “ar rahm” artinya lembut dan kasih sayang. Dalam
sebuah hadist dinyatakan:.....sambunglah tali persaudaraan kepada orang yang
memutuskanmu”..........
Jika
seorangyang telah memutuskan hubungan sajakita diminta untuk menyambungnya maka
dalam kondisi hubungan yang baik harus diperhatikan.Oleh karena itu, hal ini
sesuai dengan pengertian “shilah”, yang artinya 1. Menyambung yang putus; 2.
Menjaga yang telah sambung; 3. Memperkokoh dan mengembangkan yang telah baik.
Fungsi
silaturrahim antara lain adalah menumbuhkan rasa kecintaan dan rasa salins
peduli.
4.
Pelayanan
Maksimal
Tugas utama guru adalah memfasilitasi
murid, yang biasa disebut guru sebagai fasilitator. Memfasilitasi yang dimaksud
pada hakikatnya sebagai perwujudan bentuk pelayanan guru kepada murid (guru
sebagai pelayan).
Inti pelayanan terletak pada
bagaimana guru mampu mempermudah dan memperlancar murid agar terdorong belajar
secara aktif. Dengan kata lain, pelayan guru diarahkan pada “ student centered”
(berpusat pada siswa) bukan “ teacher centered” (berpusat pada guru).
Penyelenggaraan pembelajaran
sebagai wujud pelayanan maksimal, guru dapat mengadopsi filosofi jawa dalam
menerima, menghormati, dan melayani tamu dalam suatu penjamuan. Filosofi
tersebut diejawantahkan dalam empat sikap dan perilaku “4-uh”, yaitu :
a.
Aruh (tegur –
sapa)
Dimana
murid akan merasa senang jika disambut dengan ramah dan hangat oleh guru.
Dengan demikian guru akan menampakkan kesiapan dan kesungguhan dalam
menyelenggarakan pembelajaran yang akan diikuti murid. Konsep “aruh”. Ditearpakan dengan cara murid
“hormat” kepada guru pada saat kelas kan dimulai dan ditutup.
b.
Gupuh (tergopoh
– gopoh)
Dimana
guru dalam menyelenggaraan pembelajaran akan sibuk dan penuh perhatian melayani
agar murid merasa nyaman mengikuti proses pembelajaran.
c.
Lungguh (duduk –
tempat)
Dalam
proses pembelajaran guru sebaiknya dapat men “setting” tempat pembelajaran yang
tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Jika “setting”
tempat ini dapat dilakukan guru dengan baik maka akan menumbuhkan suasana
pembelajaran yang konduksif.
d.
Suguh (hidangan
– saji)
Dalam
proses pembelajaran “suguh” yang dimaksudadalah bagaimana guru daapat
menyajikan pembelajaran yang efektif sehingga tujuan pembelajaran yang telah
dirumuskan dapat tercapai. Penyajian pembelajaran yang menarik, setidak –
tidaknya berkaitan dengan isi atau materi maupun pendekatannya.
MENDIDIK
DENGA HATI
A.
Pentingnya
Hati
Ketahuilah, didalam tubu itu ada
segumpal daging, apabil ia baik, maka baikpulalah seluruh tubuh.dan apabila
rusa, maka rusaklah pula seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati. (HR.
Bukhari dan Muslim).
Hati merupakan sesuatu yang paling
penting dan mulia pada diri manusia. Ibnu Qoyyim (2005:xi) mengemukakan bahwa
hati adalah rajanya,semuanya melaksanakan apa yang diperintahkan hatinya,
menerima petunjuk darinya, seluruh perbuatannya menjadi lurus karena niat dan
maksud hatinya. Ia bertanggung jawab terhadap semuanya. Dengan kata lain, dapat
dikatakan bahwa sumber atau pusat pendidikan adalah hati, bukan otak. Otak
sebagai salah satu anggota atau organ tubuh akan digerakkan oleh hati.
Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah
syair yang berbunyi: apabila pengajar membuka hati pada masa kecil, maka akan
sungguh ditemui yang tersiman didalamnya laksana ukirann dibatu (Ahmad Najieh,
1984: 117). Syair ini menyatakan betapa pentingnya seorang guru memiliki
kemampuan membuka hati peserta didiknya. Fungsi seorang guru bukan “teching”
(mengajar) tetapi “learning” (mendorong peserta didik untuk belajar).
Toto tasmara (2001: xvii)
mengemukakan bahwa cinta adalah keinginan untuk memberi dan tidak memiliki
pamrih untuk mengharapkan imbalan. Cinta bukan komoditas, tetapi kepedulian
yang sangat kuat terhadap moral dan kemanusiaan. Dalam konteks ini maka peran
suatu hati sangat penting dan sekaligus merupakan kunci keberhasilan dalam
mendidik peserta didik.
Untuk mengaktualisasikan pendidikan
dan pembelajaran dengan suara hati, maka guru dapat mendasarkan pada:
1. Mendidik dengan
mencari keridhaan Yang Maha Kuasa
Tugas
mendidik memiliki nilai spiritual yang tinggi karena jika tugas mendidik
tersebut diorientasika untuk mencari keridhoan Yang Maha Kuasa.dijelaskan dalam
sebuah hadits: Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan
memudahkan baginya jalan ke surga (HR. Muslim).
2.
Mendidik
merupakan tugas mulia
Tugas mendidik memiliki nilai
spiritual yang tinggi, mendidik juga memiliki nilai universal yang dilakukan
oleh siapapun. Oleh karena itu, tugas mendidik adalah tugas yang sangat mulia.
3.
Mendidik
merupakan tugas utama guru
Mendidik merupakan tugas utama
guru, maka guru hars bersungguh – sungguh dan tulus – ikhlas melakukan tugas
ini sehingga ia dapat menikmati, menjiwai, dan merasa nyaman menjadi guru.
B. Pendekatan
dengan Hati
Mendidik dengan hati dapat dilakukan
melalui tahap – tahap, yaitu: 1. Menumbuhkan motivasi internal; 2. Membangun
sistem keyakinan; 3. Menumbuhkan dan memberikan inspirasi; 4. Melaksanakan
pembelajaran.
1. Menumbuhkan
Motivasi Internal Inti mendidik dengan hati adalah membangun sebuah motivasi
yang tumbuh dari dalam diri secara ikhlas. Motivasi internal dilandasi sebuah
ke ikhlasan dalam bekerja. Ari Ginanjar (2008: 19) mengklasifikasikan
keikhlasan kedalam tiga tingkatan, yaitu: 1. Pysical sincerity, yaitu
keikhlasan yang timbul saat kita mendapatkan balasan materi seperti bonus,
hadiah, dan lain – lain; 2. Emotional sincerity yaitu berupa imbalan pengakuan
, kehhormatan, dan penghargaan; 3. Spiritual sincerity, inila yang paling tinggi. Yaitu ketika merasa
bahwa setiap pperbuatan baik pasti akan dibalas oleh Tuhan.
Kaya
itu bukanlah kaya harta tetapi kaya jiwa ( HR. Bukhari dan muslim)
|
2. Membanggun Sistem Keyakinnan (Believe System)
Keyakinan (sistem
keyakinan) merupakan sesuatu yang terbaik yang tertanam dalam hati seseorang,
oleh karena itu harus dibangunsistem keyakinan yang benar dan .kokoh. Sistem
keyakinan dapat dikatakan sebagai sumber atau rohnya komiten. Sebagaimana
dikemukakan oleh Roter dan Foster(1986:
9).
Ada dua sistem keyakinan, yaitu:
1. Sistem
keyakinan yang membatasi dan membelenggu
2. Sistem
keyakinan yang mendukung
Sistem
yang membatasi atau yang membelenggu biasanya diwarnai oleh perasaan pesimis
dan prasangka buruk. Sebaliknya sistem keyakinan yang mendukung dapat
diibaratkan sebagaimana yang tertuang dalam kata mutiara sebagai berikut:
“Barang siapa yang bersungguh – sungguh pasti akan mendapatkan / berhasil.” Orang
yang memiliki keyakinan mendukung tidak akan menyerah sebelum berhasil, dia
berani mengambil resiko.
Bila anda berpikir akan kalah , Anda sudah pasti
kalah (Arnold Palmer, pegolf dunia)
|
3.
Memberikan
Inspirasi (menjadi guru inspirator)
Guru harus dapat mengubah cara
mengajar dan merespon perkembangan dengan mengembangkan metode pembelajaran
yang lebih aktif dan kreatif. Untuk menopang hal ini, maka guru harus kaya
metode pembelajaran yang bervaariasai dan sekaligus guru mampu memilih dan
menerapkan metode dengan tepat paa kodisi dan karakteristik yang sesuai.
Guru merupakan sumber inspirasi
bagi murid –muridnya. Agar guru menjadi sumber inspirasi belajar bagi muridnya,
maka guru harus memilki kometensi yang memadai baik dari segi ucapan, sikap,
dan perilakunya. Sumber utama yang harus dimiliki guru adalah tterletak pada
keteladanannya.
Sebagai tindak lanjut implementasi,
langkah – langkah memunculkan inspirasi siswa dapat dilakukan dengan:
· Mengenali
dan memahami kondisi atau dunia siswa
· Memberikan
stimulus sesuai dengan potensinya
4.
Implementasai
pembelajaran atau pendidikan
Seorang guru yang ingin mengajar
dan mendidik dengan berhasil harus mampu membawa pembelajaran dengan
menghadirkan jiwanya. Bukan sekedar menstransfer ilmu yang bersifat kognitif,
melainkan seorang pendidik juga dituntut untuk dapat menyertakan semangat,
gairah, perhatian hingga kesabarannya selama proses penbelajaran sehingga dapat
menumbuhkan suasana pembelajaran yang koduksif.
PARADIGMA
PEMBELAJARAN
Pada bab ini, bedah buku yang kami
lakukan adalah mengenai paradigma pembelajaran. Paradigma dapat dikatakan
sebagai seperangkat asumsi, konsep, nilai dan praktik yang diterapkan dalam
memandang realitas dalam sebuah komunitas atau disiplin ilmu atau
intelektualitas. Sedangkan pembelajaran adalah sebuah atau serangkaian proses
yang berisikan pengalaman baru bagi para individu yang terlibat didalamnya.
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
paradigma pembelajaran adalah serangkaian konsep yang dipraktekkan dalam sebuah
proses kegiatan belajar mengajar yang berisikan pengalaman baru agar proses
kegiatan belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan tujuan pendidikan
sebagai mana mestinya.
Di dalam buku ini, terdapat empat hal
yang berhubungan dengan paradigma pembelajaran diantaranya : fokus
pembelajaran, mengajar yang mendidik, mengajar adalah belajar, serta suasana
pembelajaran.
A.
Fokus
Pembelajaran
Fokus pembelajaran diarahkan pada upaya
agar murid kelak mampu berinovasi mengembangkan apa yang telah didapatkan
sewaktu mereka belajar. Sehingga mereka mampu mengimplementasikan (mewujudkan)
pengalaman belajarnya pada kehidupan sehari-harinya serta mampu beradaptasi
(menyesuaikan) dirinya dengan perkembangan zaman yang ada.
Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Dryden dan
Vos (2000:17) yang mengemukakan bahwa belajar seharusnya memiliki tiga tujuan,
yaitu:
1.
Mempelajari
keterampilan dan pengetahuan tentang materi-materi pelajaran spesifik.
2.
Mengembangkan
kemampuan konseptual umum, sehingga mampu belajar menerapkan konsep yang sama
atau yang berkaitan dengan bidang-bidang lain yang berbeda.
3.
Mengembangkan
kemampuan dan sikap pribadi yang secara mudah dapat digunakan dalam segala
tindakan.
Sehingga sangat diperlukan sosok
pendidik yang mampu mengemban amanah serta memiliki visi ke depan tentang
pendidikan. Serta diperlukan pula guru yang berkarakter kuat dan mampu berfikir
dan bertindak cerdas.
B.
Mengajar
Yang Mendidik
Di dalam buku ini, diceritakan
sebuah kisah tentang seorang guru yang dapat dikategorikan sebagai seorang guru
yang memiliki wajah yang nampak menyeramkan, memakai pakaian yang lusuh dan
sekilas tidak mampu menarik minat belajar siswa. Namun dengan keterampilannya
beliau mampu membuat suasana belajar yang kondusif. Yang semula anak-anak takut
dengannya setelah mendengar beliau bercerita, semua muridnya terpesona kepada
setiap kata dan gerak lakunya yang memikat. Memberikan sebuah pengaruh yang
lembut dan baik dalam dirinya. Beliau adalah sosok guru yang sesungguhnya yaitu
orang yang tak hanya mentransfer sebuah pelajaran, tapi juga secara pribadi
menjadi sahabat dan pembimbing spiritual bagi muridnya.
Sehingga
dapat disimpulkan bahwa seorang guru harus mempunyai jiwa atau sosok guru
sejati yaitu sosok yang tidak hanya mampu mentransfer ilmu atau pengetahuannya
tetapi juga harus mampu mengajarkan serta membimbing kepada anak didiknya agar
mampu menjadi manusia yang memiliki daya guna tinggi bagi lingkungannya.
C.
Mengajar
Adalah Belajar
D.
Suasana
Pembelajaran
Agar pembelajaran yang berkulitas
dapat terwujud, maka diperlukan suasana pembelajaran yang memadai. Seorang guru
harus mampu pula menciptakan suasana belajar yang nyaman agar proses kgiatan
belajar mengajar menjadi kondusif. Setidak-tidaknya ada tiga indikatornya,
antara lain:
1. Menyenangkan
atau membahagiakan
2. Lingkungan
kondusif (fisik atau non-fisik)
3. Layanan
dan penampilan prima.
Sudiarto (2005:34) mengemukakan bahwa
suasana pembelajaran kondusif, maka kebijakan utama membantu pengembangan
peserta didik adalah:
1.
Menyediakan guru
yang profesional, yang seluruh waktunya untuk menjadi pendidik
2.
Menyediakan fasilitas
sekolah yang memungkinkan peserta didik belajar dengan penuh kegembiraan dengan
fasilitas olahraga dan ruang bermain yang memadai dn ruang kerja guru, dan
3.
Menyediakan
media pembelajaran yang kaya, yang memungkinkan peserta didik dapat terus menerus
belajar melalui membaca buku wajib, buku rujukan, dan buku bacaan (termasuk
novel), serta kelengkapan laboratorium dan perpustakaan yang memungkinkan
peserta didik belajar sampai tingkatan menikmati belajar.
PENDIDIK
UNGGUL
Pendidik
yang unggul akan membuat proses pembelajaran yang menjadi kondusif sehingga
para siswa dapat dengan mudah memahami serta dapat menyerap pelajaran dengan
baik. Untuk membangun guru yang unggul, setidak-tidaknya ada tigal hal, yaitu
penampilan terbaik (The Best Appearance), sikap terbaik (The Best Attitude),
dan prestasi terbaik (The Best Achievement).
A.
PENAMPILAN
TERBAIK
Guru berpribadi dapat kita amati
pada penampilan pertama. Jika guru mampu menampakkan penampilan positif maka
murid akan memiliki kesan yang positif pula. Untuk membangun penampilan terbaik
guru, setidak-tidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan terutama antara
lain :
1.
Posisi
dan Bahasa Tubuh
Posisi dan bahasa tubuh seseorang
dapat menggambarkan sikap orang tersebut. Senada dengan seorang guru, mereka
harus mampu menunjukkan posisi tubuh yang baik agar, para siswanya terasa
nyaman ketika belajar dengannya. Namun, apabila seorang guru menjelaskan dengan
posisi tubuh berdiri dengan dengan kedua tangan bertolak ke pinggang, itu dapat
menyebabkan para siswa mengira bahwa guru tersebut memiliki sikap angkuh dan
sombong sehingga para siswa tidak nyaman belajar dengannya.
2.
Gaya
Bicara dan Ekspresi
Seorang guru laksana seorang artis
di dalam sebuah kelas. Seluruh hal yang terdapat di dalam dirinya akan menjadi
sorotan para siswanya. Karenanya seorang guru harus mampu menyembunyikan semua
persoalan pribadinya di depan para siswanya agar mereka dapat menerima ilmu
yang sedang disampaikan.
3.
Cara
Berpakaian
Paling tidak ada tiga hal yang
dapat digunakan sebagai indikator dalam berpakaian yaitu 1. Berdasarkan syariat
(hukum agama), 2. Bersih, 3. Pantas.
B.
SIKAP
TERBAIK
Manifestasi
sikap yang terbaik juga ditunjuka pada sifat-sifat antara lain :
1.
Peduli
Dalam dunia pendidikan, kepedulian guru kepada
muridnya mampu mengembangkan potensinya sangat diperlukan. Oleh karena itu,
kepedulian guru lebih diarahkan untuk memfasilitasi agar peserta didiknya mau
belajar sehingga ia menyadari akan hari kedepannya.
2.
Menebar
Salam dan Kedamaian
Mendidik anak dengan membiasakan menebar salam dan
kedamaian sangat penting. Penanaman dan pembiasaan ini berarti juga mendidik
untuk saling mendoakan, memperhatikan, dan saling mengayomi antara satu dengan
yang lain.
3.
Bijak
dalam bicara, santun dalam bertindak, dan baik dalam bersikap
Kita harus membiasakan baik budi dan bahasanya dalam
pergaulan, sopan dalam bicara, santun dalam berbuat, dan baik dalam bersikap,
menghormati pendapat orang lain, serta mampu menjelaskan sesuatu dengan baik,
jelas, benar dan mendasar. Sebagai perwujudan bijak dalam bicara adalah
penguasaan bahasa, kemampuan berkomunikasi, dan etika berbicara atau
berkomunikasi.
C.
PRESTASI
TERBAIK
Bekerja harus berorientasi pada hasil
maksimal bukan hasil rata-rata. Agar dapat mencapai hasil maksimal kita harus
berani melakukan kegiatan di luar kebiasaan rata-rata yang dilakukan oleh orang
lain. Dengan kata lain, melakukan kegiatan yang luar biasa (be extra ordinary).
Kalau kita melakukan kegiatan yang luar biasa, maka otomatis kita bukan orang
yang biasa.
Untuk
mewujudkan prestasi terbaik, setidak-tidaknya ada beberapa hal yang perlu
dilakukan, yaitu :
1.
Menjadi
Manusia Terbaik
Faktor SDM yang
berkualitas sangat penting dan menentukan apalagi dalam era globalisasi saat
ini alam dunia pendidikan kerja keras dalam mendidik peserta didik hingga
berhasil akan menghasilkan SDM yang berkualitas. Upaya sungguh – sungguh yang
dilakukan seorang guru untuk mengembangkan potensi peserta didik dan juga
diimbangi oleh kesungguhan peserta didik dengan belajar merupakan bentuk
keterpaduan sinergis yang sangat penting. Kualitas SDM yang tinggi harus
menjadi perhatian guru dalam mendidik peserta didik
2.
Berkompetensi
Sehat
Berkompetensi
sehat dilandasi jiwa fair play (bermain yang pair) dan sportif berkompetensi
sehat diantara para guru tanpa harus saling menjelekan dan menjatuhkan guru
lain karena khawatir kalah bersaing tetapi justru sebaliknya dapat saling
berpacu dan dapat diarahkan untuk saling meninggkatkan peran masing-masing guru
dalam rangka memberdayakan kinerja sekolah.
3.
Bersegera
Bertindak
Orang yang
bersegera berbuat biasanya mampu memanfaatkan peluang dengan tepat. Biasanya ia bersikap disiplin
dan tidak menunda-nunda pekerjaan. Perlu disadari bahwa kesempatan yang baik
atau yang disebut kesempatan emas sering kali tidak terulang lagi. Oleh
karenanya jika kesempatan tersebut tidaksegera dimanfaatkan dengan baik maka ia
akan kehilangan momentum yang sangat berharga.
BERFIKIR
DAN BERTINDAK CERDAS
Menurut HR. Abu Daud “ orang yang cerdik
adalah orang yang dapat menaklukan hawa nafsunya dan beramal untuk bekal
sesudah mati, dan orang uang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya
dan berangan – angan muluk kepada Allah”.
Dalam pembukaan undang – undang terdapat
kalimat “...mencerdaskan kehidupan bangsa...” lalu diperjelas dalam pasal 31
ayat (3) yang menyatakan bahwa meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak
mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang –
undang.
Cerdas adalah pintar dan cerdik, cepat
tanggap dalam menghadapi masalah, cepat mengerti jika mendengar keterangan,
tajam fikiran. Sedangkan cerdik adalah punya akal pintar , mampu atau pandai
memecahkan persoalan, cepat memahami situasi yang sulit dan menemukan
pemecahannya banyak akal ( Kamisa 1997 : 112)
Cerdas dalam arti luas bukan hanya
kecerdasan tunggal tetapi kecerdasan yang bersifat ganda artinya mencakupi
kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual.
Cerdas dapat juga merujuk pada kata
“fathonah” .Toto Tasmara ( 2001: 212 – 213) mengemukakan bahwa seseorang yang
memiliki sifat fathonah , tidak saja menguasai bidangnya , tetapi memiliki
dimensi rohani yang kuat . keputusan – keputusannya menunjukan warna pemikiran
seorang profesional yang didasarkan pada sikap moral atau akhlak yang luhur.
Seorang yang fathonah itu tidak saja cerdas tapi memiliki kebojaksanaan atau
kearifan dalam berfikir atau bertindak.
A.
Kecerdasan
Intelektual, Kecerdasan Emosi dan Kecerdasan Spiritual
a.
Kecerdasan
Intelektual
Menurut
kamus psikologi, intelligence artinya kemampuan berurusan dengan abstraksi –
abstraksi, kemampuan mempelajaru sesuatu , kemampuan menangani situasi –
situasi baru. Adapun Intelligence Quotient (IQ) adalah cara klasik merupakan
hasil bagi umur mental (mental age) dengan umur kronologis (chronological age)
yang kemudian dikalikan dengan angka 100 ( Dali Gulo, 1982 : 125).
Kecerdasan
intelektual ternyata bukan satu –satunya faktor yang menentukan keberhasilan
seseorang dalam hidupnya. Kecerdasan
Intelektual memiliki peran dalam mengidentfikasi masalah, menganalisis dan
mensintesis objek, memberikan informasi tentang baik – buruk dan untung
rugi dan sebagainya.
b.
Kecerdasan
Emosi
Kecerdasan emosi adalah kemampuan
seseorang mengendalikan emosinya pada saat menghadapi situasi yang menyenangkan
maupun menyakitkan.
Salovey dan Goleman ( 1997 : 58 -59
) membagi kecerdasan emosi dalam lima wilayah utama atu bidang kompetensi,
yaitu :
1.
Mengenali emosi
diri
2.
Mengelola emosi
3.
Memotivasi diri
sendiri
4.
Mengenali emosi
orang lain
5.
Membina hubungan
Emosi
positifdan emosi negatif memiliki peran dalam kehidupan , persoalannya adalah
bagaimana mengolah emosi menjadi bermakna dalam kehidupan. Emosi positif dapat
digambarkan seperti kasih sayang , gembira, bahagia, berani, berjuang, gigih, sukses
dan lain – lain. Sedangkan emosi negatif seperti sakit hati, benci, sedih,
gagal, kecewa, takut, was was , putus asa dan lain – lain. Oleh karena itu
manajemen kecerdasan emosiyang baik dapat memperkuat dan memperkokoh kecerdasan
intelektual.
c.
Kecerdasan
Spiritual
Zohar dan marshall ( 2007: 4)
mengemukakan bahwa kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan
memecahkan persoalan makna dengan nilai , yaitu kecedasan untuk menempatkan
perilaku dan hidup kitadalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan
untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna
dibandingkan dengan yang lain.
B.
Kecerdasan
Emosi – Spiritual ( ESQ )
Emotional-Spiritual Quotiont (ESQ) atau
kecerdasan Emosi- spiritual pada dasarnya segala sesuatu (ucapan, sikap ,
pemikiran, perilaku dan lain – lain ) yang merupakan perwujudan atau
implementasi keterpaduan antara hablu minallah dan hablu minnannas dengan kata
lain keterpaduan hubungan vertikal dan horisontal.
PENUTUP
Guru
luar biasa adalah guru yang mampu memberikan dan menumbuhkan inspirasi agar
peserta didik dapat berkembang potensinya secara optimal.
Berdasarkan uraian dan kajian tersebut,
dapat disarikan bahwa tugas dan fungsi guru dalam memberdayakan potensi peserta
didik sangat penting artinya. Oleh karena itu diperlukan profil guru yang mampu
memberikan dan menumbihkan inspirasi agar peserta didik mengembangkan potensinya
secara optimal. Maka diperlukan guru yang berkarakter kuat dan cerdas.
A.
Tujuan
Pembelajaran dan Pendidikan
Tujuan mengajar dan mendidik pada hakikatnya adalah
:
1. Meletakan
landasan karakter yang kuat melalui internalisasi nilai dalam pendidikan.
2. Menumbuhkan
/ menambahkan kecerdasan emosi dan spiritual yang mewarnai aktivitas hidupnya.
3. Menumbuhkan
kemauan berfikir kritis melalui pelaksanaan tugas – tugas pembelajaran.
4. Menumbuhkan
kebiasaan dan kemampuan untuk berpartisipasi aktif secara teratur dalam aktifitas
hidupnya dan memahami manfaat dariketerlibatannya.
5. Menumbuhkan
kebiasaan untuk memanfaatkan dan mengisi waktu luang dengan aktivitas belajar.
6. Menumbuhkan
pola hidup sehat dan pemeliharaan kebgaran jasmani.
B.
Membangun
Budaya Kerja
Komponen – Komponen yang dijadikan
acuan didalam membangun budaya kerja adalah :
1. Komitmen
2. Kompeten
3. Kerja
keras
4. Konsisten
5. Kesederhanaan
6. Kedekatan
7. Pelayanan
maksimal
8. Cerdas
C.
Profil
Kinerja yang diharapkan
Kinerja pendidik yang diharapkan
dapat berpegang pada prinsip – prinsip sebagai berikut :
1. Senantiasa
memegang komitmen dengan sunggguh – sungguh dalam mewujudkan visi, misi, dan
tujuan pendidikan.
2. Senantiasa
menjunjung tinggi martabat profesi guru
3. Menantiasa
melakukan yang terbaik dalam mengembangkan potensi peserta didik
4. Senantiasa
bekerja keras dengan penuh pengabdian .
Daftar Pustaka
Hidayatullah, M.Furqon (2010). Guru Sejati : Membangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas. (Kualalumpur: Yuma Pustaka).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar